Arsip untuk Desember, 2007

Bagaimana Negara dapat Berubah?

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Desember 12, 2007 by Handari Yektiwi Alchosih

Siang ini ketika hobi bongkar peti lama terutama yang berisi buku2 ‘koeno’ dengan ‘edjaan’ lama kambuh, saya menemukan buku Bapak saya yang mungkin dikasih pinjam atau dikasih sebagai hadiah dari teman beliau yang bernama Indera Bakti. Tahun pemberian atau kepemilikan adalah tahun 1954. Buku ini ditulis oleh Mr. Soenarko, berjudul Sari Pandangan Sardjana2 Tatanegara Seluruh Dunia dari Sokrates hingga Ir. Soekarno, penerbit N.V Hidup Djakarta dan dibeli di Toko Piet Djl. Kamarbola No.8 Djember. Saya sengaja menulis semua identitas kepemilikan dan bagaimana cara beliau2 memiliki buku itu dengan lengkap dan komplit sebab semua terbaca di halaman pertama setelah cover buku. 

Tetapi sebetulnya itu saya lakukan karena isi buku yang sangat menarik karena simpel dan mudah dimengerti meski sarat dengan istilah2 filsafat.

Saya berhenti membaca cepat ketika sampai pada sarjana Plato dan tepat pada judul tengah ‘Bagaimana Negara itu dapat berubah?’ Akan saya kutipkan lengkap tetapi dengan ejaan masa kini ya…karena saya sendiri pusing dengan ejaan lama di buku ini.

Menurut Bapak Plato negara berubah karena….

Makin tipis rasa keadilan sejati itu meresap disanubari para pembesar negara, makin goncanglah keadaan Negaranya, sehingga Negara itu dapat berubah sifat karenanya.

Jika para Aristokrasi yang berpinandita itu mulai terpengaruh oleh keinginan akan kemashuran nama dan pangkat, maka Aristokrasi berubah menjadi Negara Timokrasi. Jika pembesar Negara dapat dipengaruhi oleh kemewahan dan gampang diperkudakan oleh si Kaya maka timbullah oligarchie yang menyedot milik rakyat dan mengakibatkan kemiskinan, sehingga rakyat berontak dan lalu mendirikan Negara Demokratie(si). Demokrasi dapat lenyap karena kekurangan tata tertib, sehingga muncul  ‘anarchie’ dalam Negara yang menggampangkan berdirinya ‘Monarchie’ yang ‘dictatorial’ dan ini berputar lagi ke Aristokrasi dan begitulah keadaan perubahan itu merupakan ‘cyclus’ negara. Perubahan2 Negara disebabkan karena perubahan batin, yaitu menipisnya anasir idealistis. Plato ialah seorang idealis tulen.

Demikian kutipan saya untuk siklus negara. Sekarang kita sedang dimana? Kira-kira mungkin tidak siklus itu terjadi di negara kita? Apakah pembesar2 kita adalah ksatria yang pinandita, ksatria yang berspiritual tinggi? Mari kita mencermati bersama-sama. Atau ada yang ingin memberikan ramalan terkini ala masa kini karena era Plato sudah jauh… 

Laki-laki

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Desember 12, 2007 by Handari Yektiwi Alchosih

Laki-laki dengan kaki kurus kecil

tetap laki-laki namanya

ketika kaki kurus kecilnya

melangkah mantap ke masa depan

Laki-laki dengan badan ringkih

juga laki-laki namanya

karena selalu menyimpan asa yang besar

Laki-laki dengan kulit kelam

tentu dia laki-laki

saat hatinya putih bersih dan senyumnya cerah

Laki-laki berurai airmata

tetap laki-laki namanya

jika airmatanya jatuh

ketika kesengsaraan dan ketidakadilan

tak terbendung didepan mata

Bukan laki-laki namanya

ketika tak berani memikul beban perbuatan

ketika tak memiliki cita-cita

ketika tak gigih meraih asa

dan bersembunyi diketiak bundanya.

21 Juli 2007, ultah dik Bagas ke 11

Teringat Kader PKK

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Desember 6, 2007 by Handari Yektiwi Alchosih

Tiba2 saja saat melamun saya teringat pada kiprah Ibu2 PKK. Kader PKK mulai dimanfaatkan sebagai mitra petugas kesehatan di lapangan untuk mendukung dan membantu pelaksanaan program pemerintah dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan sejakera 70an. Penjangkauan terhadap masyarakat melalui rumah tangga tidak diragukan lagi dan sudah terbukti manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dan pemerintah untuk program2 pemerintah bidang kemasyarakatan. Meski suatu ketika pemerintah melakukan pengketatan dana nasional, PKK akan tetap menjadi kelompok yang diharapkan tetap dapat ‘beroperasi’ dengan menggali sifat dasar masyarakat yaitu ‘gotong royong’.
Saat ini jumlah pengidap HIV dan pengguna obat terlarang mulai menunjukkan suatu peningkatan bermakna dan sudah seluruh propinsi memiliki kasus, pemerintah semestinya teringat pada PKK dan mulai memikirkan bentuk kegiatan yang sesuai untuk membantu pemerintah terutama untuk kegiatan yang bersifat pencegahan. Pengawasan dini untuk masyarakat rentan akan mudah dilakukan karena PKK berasal dari masyarakat dan ditengah masyarakat. Segi positif yang akan didapat adalah terjadinya keterbukaan untuk suatu permasalahan yang terjadi ditengah masyarakat jangkauan PKK, misal: kasus gizi buruk, wabah, penyakit langka, kekerasan terhadap anak, kekerasan dalam rumah tangga, nyaris putus sekolah, calon TKI/TKW yang minim informasi dan tentu masih banyak lagi permasalahan dimasyarakat yang sebetulnya dengan jiwa dasar bangsa Indonesia ‘gotong royong’ semua masalah dapat dicarikan jalan keluarnya.
Jika terjadi stigma dan diskriminasi terhadap salah satu anggota masyarakat karena penyakit yang diderita atau masalah yang menimpa, terbukti bahwa kader PKK mampu menjadi penengah meski hanya bermodalkan pada hati nurani seorang perempuan. Jika saja peluang ini dimanfaatkan oleh pemerintah untuk meringankan beban pendanaan nasional dan juga kesempatan para koruptor beraksi juga menjadi rendah karena dana langsung sampai pada sasaran program.
Satu hal yang menjadi angan saya adalah keberagaman budaya dan sumber daya baik alam maupun manusia. Jangan pernah berpikir untuk keseragaman program. Mulailah dengan melihat perbedaan dan jadikan perbedaan itu menjadi peluang untuk pengembangan. Penduduk pertanian mestinya diberi pendidikan untuk meningkatkan kemampuan bertani menyamai negara dengan kemampuan bertani dengan teknologi modern. Penduduk pesisir pantai memperoleh pendidikan tentang pengelolaan ikan dan bagaimana bisa melestarikan habitat laut supaya tidak hancur dan tidak terjadi pergeseran harkat hidup. Petani terpaksa menjadi pekerja yang tidak sesuai dengan ’skill’ yang dimiliki. Nelayan menjadi kuli diluar daerahnya karena habitat laut hancur.
Yang menjadi tanda tanya besar dalam hati saya adalah ‘kenapa pemerintah tidak secara bijak melihat ‘masa lalu’ untuk hal yang positif. Kenapa kita tidak melihat peluang keberlangsungan suatu program pemerintah yang bersifat kemasyarakatan akan terjadi jika masyarakat terlibat langsung? Bukankah dengan meningkatkan tingkat pengetahuan seorang perempuan berarti mempersiapkan manpower yang handal, karena dari seorang perempuanlah diharapkan akan ‘terlahir’ anak2 yang luar biasa ketahanannya baik fisik maupun mental sehingga merk bangsa Indonesia yang PENAKUT, PEMBAJAK, PENCURI dan TERORIS akan TERKIKIS.
Itulah mimpi dalam perenungan saya. Saya sedikit geram, meski dalam hati. Rasanya ingin berbisik kepada sesama perempuan, bukankah ini juga tugas wakil rakyat di DPR, DPRD dan semua institusi yang bisa bersuara sampai tingkat manapun, ya…. Iya juga, seh…..

Jiwa Enterprenesip atau Pemberontak?

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Desember 5, 2007 by Handari Yektiwi Alchosih

Ciri-ciri dari seseorang yang berjiwa enterprenesip salah satunya adalah mampu mengubah tantangan menjadi peluang, sekecil apapun peluang yang ada. Ciri yang lain seperti yang saya rasakan ketika bekerja dalam tim dengan orang-orang berjiwa enterprenesip adalah teliti dan detil pada proses dan bukan pada input. Saya memberi sebutan sebagai jiwa yang merdeka dan bukan bangsa budak. Perintah yang diberikan cukup berupa kebijakan yang ditetapkan dan tujuan atau goal yang harus dicapai, bukan ‘cara’ untuk mencapai ‘goal’ yang ditetapkan.
Seseorang yang berjiwa enterprenesip membutuhkan seorang pemimpin yang tegas dan berani bertanggungjawab atas semua hasil kerja anak buahnya.
Pemimpin yang tegas berani mengam
bil alih semua kesalahan yang dilakukan anak buah tetapi juga berani memberikan pujian dan ‘reward’ kepada anak buah ketika mencapai keberhasilan yang gemilang.
Fenomena yang terjadi saat ini terutama dalam institusi birokrasi sangat membingungkan antara jiwa enterprenesip atau pemberontak. Ketika anak buah berinovasi, anggapan yang muncul terlalu ‘neko2′. Ketika dilapangan ‘terpaksa’ harus membuat satu keputusan yang kritis, dianggap ‘menginjak kepala’ atasan. Dan ketika mengerjakan pekerjaan yang ‘overlaping’ dengan bagian atau institusi lain, dianggap ‘menginjakkaki’ orang lain.
Mengapa inovasi yang muncul dari bawah dikonotasikan sebagai hal yang negatif, neko2 dan pemberontakan? Bukankah yang inovatif adalah salah satu ciri dari enterprenesip? Ah, bingung!

Penanggulangan AIDS dengan Kondom atau Moral Agama?

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Desember 4, 2007 by Handari Yektiwi Alchosih

Tanggal 1 Desember 2007 kemarin adalah masa 20 tahun setelah kasus AIDS pertama ditemukan di Pulau Bali. Kasus pertama ini ‘untung’ saja bukan pribumi, jadi masyarakat bisa bernapas lega. ‘Belanda’ masih jauh…istilah jaman sebelum kemerdekaan RI. Tetapi tidak demikian dengan pemerintah pusat dan departemen terkait yang untuk sementara AIDS dianggap sebagai penyakit tanpa mempertimbangkan faktor penyebab perluasan kasus.
Langkah awal pemerintah pusat adalah membentuk tim penanggulangan yang anggota terbanyak didominasi oleh unsur ’sakit’ yaitu rumah sakit dan jajaran departemen kesehatan yang membawahi rumah sakit. Kemudian diikuti dengan pembentukan tim penanggulangan AIDS Propinsi. Pada saat itu Propinsi Jawa Timur yang pertamakali berhasil membentuk tim sekaligus menetapkan kebijakan.
Pada awal merebaknya kasus AIDS di Amerika Serikat, kaum homoseks lah yang dianggap sebagai penyebab munculnya virus HIV yang akhirnya bisa menyebabkan penurunan kekebalan pada tubuh manusia dan disebut dengan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS). Tetapi kasus selanjutnya muncul dikelompok pelacur dan ternyata fenomena penyebaran dari homoseks ke pelacur dan kelompok yang lain termasuk ke kelompok rumah tangga terjadi di beberapa negara termasuk Indonesia.
Saat ini kasus HIV/AIDS sudah mengena pada ibu rumah tangga dan pada keluarga. Gambaran kasus ini akhirnya memunculkan suatu pendapat bahwa sudah saatnya dilakukan kampanye penggunaan kondom yang dilakukan secara terbuka artinya untuk semua lapisan masyarakat tidak hanya ditempat pelacuran. Pemikiran ini mendapat tentangan oleh kelompok agamis yang berkeyakinan bahwa ‘barrier’ moral agama ditambah dengan peningkatan pengetahuan tentang proses penularan HIV akan mampu membendung penyebaran di masyarakat.
Menurut saya pribadi, pendapat yang meyakini bahwa moral agama ditambah dengan pengetahuan tentang HIV akan mampu menjadi ‘barrier’ penyebaran dan penularan. Kampanye kondom pada remaja kadang membuat mereka bingung dan justru yang tertanam dalam benak mereka adalah keingintahuan untuk ‘mencoba’ kondom seperti yang diajarkan.
Mengapa kita selalu mengedepankan HAM untuk pengidap HIV dan penderita AIDS? Lalu bagaimana dengan hak yang masih sehat dan selalu berhati-hati dalam menjalani hidupnya?
Mengapa kita tidak melakukan penanggulangan dengan cara yg sesuai dengan situasi ‘pasar’? Tetapi seperti yang kita semua tahu, yang kita semua bisa rasakan, semua sektor yang berhubungan dengan hak yang hidup pada saat ini sudah menjadi lahan bisnis. Dan semua sektor ekonomi dan bisnis tidak bisa lepas dari pengaruh politik luar negeri dan dalam negeri.
Pemerintah pusat yang seharusnya sebagai penetap kebijakan belum pernah konsisten terhadap apa yang sudah menjadi ketetapan. Jadi bagaimana? Sebaiknya kita masing2 bertanggungjawab atas diri kita sendiri karena pada ’saat’nya nanti kita akan sendirian mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan yang telah kita perbuat di dunia.