Siang ini ketika hobi bongkar peti lama terutama yang berisi buku2 ‘koeno’ dengan ‘edjaan’ lama kambuh, saya menemukan buku Bapak saya yang mungkin dikasih pinjam atau dikasih sebagai hadiah dari teman beliau yang bernama Indera Bakti. Tahun pemberian atau kepemilikan adalah tahun 1954. Buku ini ditulis oleh Mr. Soenarko, berjudul Sari Pandangan Sardjana2 Tatanegara Seluruh Dunia dari Sokrates hingga Ir. Soekarno, penerbit N.V Hidup Djakarta dan dibeli di Toko Piet Djl. Kamarbola No.8 Djember. Saya sengaja menulis semua identitas kepemilikan dan bagaimana cara beliau2 memiliki buku itu dengan lengkap dan komplit sebab semua terbaca di halaman pertama setelah cover buku.
Tetapi sebetulnya itu saya lakukan karena isi buku yang sangat menarik karena simpel dan mudah dimengerti meski sarat dengan istilah2 filsafat.
Saya berhenti membaca cepat ketika sampai pada sarjana Plato dan tepat pada judul tengah ‘Bagaimana Negara itu dapat berubah?’ Akan saya kutipkan lengkap tetapi dengan ejaan masa kini ya…karena saya sendiri pusing dengan ejaan lama di buku ini.
Menurut Bapak Plato negara berubah karena….
Makin tipis rasa keadilan sejati itu meresap disanubari para pembesar negara, makin goncanglah keadaan Negaranya, sehingga Negara itu dapat berubah sifat karenanya.
Jika para Aristokrasi yang berpinandita itu mulai terpengaruh oleh keinginan akan kemashuran nama dan pangkat, maka Aristokrasi berubah menjadi Negara Timokrasi. Jika pembesar Negara dapat dipengaruhi oleh kemewahan dan gampang diperkudakan oleh si Kaya maka timbullah oligarchie yang menyedot milik rakyat dan mengakibatkan kemiskinan, sehingga rakyat berontak dan lalu mendirikan Negara Demokratie(si). Demokrasi dapat lenyap karena kekurangan tata tertib, sehingga muncul ‘anarchie’ dalam Negara yang menggampangkan berdirinya ‘Monarchie’ yang ‘dictatorial’ dan ini berputar lagi ke Aristokrasi dan begitulah keadaan perubahan itu merupakan ‘cyclus’ negara. Perubahan2 Negara disebabkan karena perubahan batin, yaitu menipisnya anasir idealistis. Plato ialah seorang idealis tulen.
Demikian kutipan saya untuk siklus negara. Sekarang kita sedang dimana? Kira-kira mungkin tidak siklus itu terjadi di negara kita? Apakah pembesar2 kita adalah ksatria yang pinandita, ksatria yang berspiritual tinggi? Mari kita mencermati bersama-sama. Atau ada yang ingin memberikan ramalan terkini ala masa kini karena era Plato sudah jauh…