Kalau tulisan ini akhirnya terpampang juga, itu karena sudah nyaris tidak ada ruang yang dapat lagi ditempati oleh ‘tanya’ dan gundah yang muncul setiap kejadian dan setiap malam di hati saya, bahkan. Sebetulnya saya ingin berbagi tentang kisah kucing negeri (terus terang saya agak jengkel kalau mendengar istilah kucing negeri diganti dengan kucing ‘kampung’) yang sekarang jumlahnya puluhan di rumah.
Dimulai dengan tahun 2005 ketika hujan rintik di rumah yang berada dilingkungan yang sepi dan semuanya cenderung menyendiri. Yang ada dan selalu terdengar hanya suara lalu lalang sepeda motor, mobil dan truk. Sesekali suara teriakan manusia karena lokasi rumah sangat berdekatan dengan Mall yang lumayan besar. Sangat sepi, nglangut dan sedikit menyeramkan ketika malam makin larut. Anak2ku terbiasa untuk selalu berkumpul dan berdiskusi tentang topik berat dan ringan dengan saya dan keponakan yang kebetulan dititipkan dirumah saya. Dan mereka semakin dekat dan nyaris tidak terpisah dalam ruangan mana saja. Di ruang tidur si mbarep perempuan, mereka berbondong-bondong, di ruang keluarga apalagi, bahkan seringkali di setting menjadi ruang tidur lesehan untuk mereka berempat plus saya dan mbah Ti (nenek). Malam saat hujan rintik itu tiba-tiba dikejutkan dengan suara lembut dan lemah, “meeoong…..”. Sekali, dua kali, tiga kali tidak ada reaksi, membuat hati saya berdegup kencang, jangan jangan….cuma saya yang mendengar suara…? Masak sih…? Ternyata tidak, sebentar kemudian, semua anak melonjak kaget sambil teriak, “hiiii….suara kucing…!” “Alhamdulillah…”, ternyata bukan cuma saya yang dengar suara kucing. Dengan menenangkan hati diri sendiri juga anak2 saya berusaha memaksa mereka untuk mencari tahu sumber suara berasal dari mana. Ternyata memang ada makhluk kecil berwarna putih, dengan badan kotor dan kurus, mata memandang nanar sedikit takut2, makhluk itu bersuara lagi, “me ee eeooong….”, suara serak itu makin terdengar memelas. Anak mbarep (sulung) saya langsung mendekat dan berusaha membuka komunikasi. “Kucing kecil ma, kasihan, badannya basah. Dibawa masuk ya, ma”, kata dia dengan sedikit memohon paksa. Melihat kondisi makhluk kecil yang menderita seperti itu rasanya hati ini seperti diiris sembilu. Saya tidak sanggup menjawab ya atau tidak. Tetapi kebiasaan si mbarep yang tidak pernah mau mundur kalau punya mau memang tidak membutuhkan jawaban dari mamanya, ya atau tidak. Dengan sigap dia mencari kain untuk mengeringkan bulu putih si kucing dari air hujan. Dan setelah itu mencari kardus bekas untuk tempat si putih tidur sekaligus menyiapkan susu dan makanan yang menurut dia pasti disuka oleh si makhluk kecil. Kain untuk alas dan membungkus badan juga tidak lupa dia siapkan. Satu jam kemudian terlelaplah sudah makhluk kecil yang dengan kesepakatan bersama antara kita semua yang menetapkan untuk menjadikan makhluk kecil putih itu menjadi bagian dari isi rumah (meski mendapat tentangan keras dari mbah Uti dan kita juga secara musyawarah mufakat memberi nama ‘Boggy’. Keren, kan?
Boggy tadinya menjadi bagian dari perjanjian dengan mbah Uti, bahwa dia akan menjadi satu2nya hewan yang boleh berada dirumah. Begitulah harapan saya juga. Tetapi apakah demikian kejadiannya? Nah, rekan2, semua saja yang datang di blog keluarga ini, Boggy ternyata bukan satu2nya, dia adalah awal dari datangnya teman2 atau saudara2 Boggy yang se ibu dan tidak jelas siapa bapaknya. Begitulah!
Disini, di blog keuarga ini saya ingin sekali bercerita tentang kucing2 anak saya si mbarep yang jumlahnya puluhan. Ada kesedihan, ada kepedihan, ada hal-hal yang tidak bisa dinalar dan yang terpenting ada pembelajaran yang bisa saya lakukan terutama terhadap dua anak saya dan beberapa anggota keluarga yang hidup serumah.
Disini saya akan berusaha untuk bisa bercerita secara detil, runtun dan bisa menggambarkan kisah yang sebenarnya dari setiap peristiwa ke peristiwa sejak tahun 2005 sampai dengan saat ini. Cerita tentang Boggy dan saudara-saudaranya, musuh-musuhnya, dan pendatang-pendatang baru besar dan kecil. Tunggu ya….