Arsip untuk Januari, 2008

Sebuah Perenungan

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Januari 21, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

Tuhan Maha Pengasih,
itu kata hati kecilku, selalu
Tuhan selalu menjawab semua pinta dan do’aku
dengan segala cara dan bentuk
aku yakini itu

Dan, setiap kejadian adalah
tanda bahwa Tuhan ada didekatku
membimbingku, mengarahkanku
dan memberiku petunjuk
Tuhan menyayangiku

Aku jalani hal terburuk dalam hidupku
Dalam 40 tahun lebih hidupku
ada pahit dan getir bahkan pedih
juga manis dan indah silih berganti
datang menghampiri dan aku jalani
Semua adalah tanda bahwa
Tuhan masih membimbingku,
Tuhan masih mengasihiku,
dan marah ketika aku lengah
Tuhan menghardikku dengan cara Nya.

Januari 2008

Kitty Kitty Kitty

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Januari 21, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

punked-it25.jpg

Ini si Adik yang ingin gambarnya dengan mami ditampilkan

Kitty Kitty Kitty

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Januari 20, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

Masih tentang Boggy, ternyata kedatangannya membawa keceriaan dirumahku. Dan ternyata dia datang untuk berteduh dari jalan-jalan yang tersesat malam itu karena hujan meski saat itu hujan tidak terlalu deras. Mungkin hujan telah menghapus jejak bau dia menuju kembali ke orang tuanya. Kasihan. Dan rupanya kami semua salah sangka. Kami menyangka ada seseorang yang tega membuang dan memisahkan dia dari ibunya.

Dua hari setelah kedatangannya, seekor kucing berwarna gelap bercampur kuning dan putih datang kerumah dengan suara ‘meong’ nya yang aneh dan panjang. Dan pada saat Boggy mendengar suara ‘panggilan’ itu, ketenangan dia seperti terganggu dan kelincahannya muncul. Dia berlari menuju suara dan dengan kegembiraan gaya kucing dia menyergap kucing hitam yang kelihatan capek dan lemah itu. Tetapi rupanya si ibu marah karena capek mencari Boggy selama dua hari itu. Dia menepis Boggy dan dengan suara dalam dia menghardik. Boggy lari bersembunyi dibawah kursi sambil terus memandang kearah ibunya yang langsung tertidur dan kelihatan sekali bahwa dia kepayahan.

Adik si Mbarep bilang, “Mami nya Boggy marah soalnya Boggy jalan2 nggak cepat pulang”. Aku tertawa dalam hati, kucing punya mami juga lho….

Kitty Kitty Kitty

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Januari 20, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

Kitty Kitty Kitty (Ini Boggy)

Boggy yang sekarang ini. Sudah besar dan berwibawa

Kitty Kitty Kitty (Ini Boggy)

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Januari 20, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

Kitty Kitty Kitty

Kitty Kitty Kitty (Ini si Mbarep)

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Januari 20, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

mbak-ajeng.jpg

Ini si Mbarep

Kitty Kitty Kitty

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Januari 20, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

Kalau tulisan ini akhirnya terpampang juga, itu karena sudah nyaris tidak ada ruang yang dapat lagi ditempati oleh ‘tanya’ dan gundah yang muncul setiap kejadian dan setiap malam di hati saya, bahkan. Sebetulnya saya ingin berbagi tentang kisah kucing negeri (terus terang saya agak jengkel kalau mendengar istilah kucing negeri diganti dengan kucing ‘kampung’) yang sekarang jumlahnya puluhan di rumah.

Dimulai dengan tahun 2005 ketika hujan rintik di rumah yang berada dilingkungan yang sepi dan semuanya cenderung menyendiri. Yang ada dan selalu terdengar hanya suara lalu lalang sepeda motor, mobil dan truk. Sesekali suara teriakan manusia karena lokasi rumah sangat berdekatan dengan Mall yang lumayan besar. Sangat sepi, nglangut dan sedikit menyeramkan ketika malam makin larut. Anak2ku terbiasa untuk selalu berkumpul dan berdiskusi tentang topik berat dan ringan dengan saya dan keponakan yang kebetulan dititipkan dirumah saya. Dan mereka semakin dekat dan nyaris tidak terpisah dalam ruangan mana saja. Di ruang tidur si mbarep perempuan, mereka berbondong-bondong, di ruang keluarga apalagi, bahkan seringkali di setting menjadi ruang tidur lesehan untuk mereka berempat plus saya dan mbah Ti (nenek). Malam saat hujan rintik itu tiba-tiba dikejutkan dengan suara lembut dan lemah, “meeoong…..”. Sekali, dua kali, tiga kali tidak ada reaksi, membuat hati saya berdegup kencang, jangan jangan….cuma saya yang mendengar suara…? Masak sih…? Ternyata tidak, sebentar kemudian, semua anak melonjak kaget sambil teriak, “hiiii….suara kucing…!” “Alhamdulillah…”, ternyata bukan cuma saya yang dengar suara kucing. Dengan menenangkan hati diri sendiri juga anak2 saya berusaha memaksa mereka untuk mencari tahu sumber suara berasal dari mana. Ternyata memang ada makhluk kecil berwarna putih, dengan badan kotor dan kurus, mata memandang nanar sedikit takut2, makhluk itu bersuara lagi, “me ee eeooong….”, suara serak itu makin terdengar memelas. Anak mbarep (sulung) saya langsung mendekat dan berusaha membuka komunikasi. “Kucing kecil ma, kasihan, badannya basah. Dibawa masuk ya, ma”, kata dia dengan sedikit memohon paksa. Melihat kondisi makhluk kecil yang menderita seperti itu rasanya hati ini seperti diiris sembilu. Saya tidak sanggup menjawab ya atau tidak. Tetapi kebiasaan si mbarep yang tidak pernah mau mundur kalau punya mau memang tidak membutuhkan jawaban dari mamanya, ya atau tidak. Dengan sigap dia mencari kain untuk mengeringkan bulu putih si kucing dari air hujan. Dan setelah itu mencari kardus bekas untuk tempat si putih tidur sekaligus menyiapkan susu dan makanan yang menurut dia pasti disuka oleh si makhluk kecil. Kain untuk alas dan membungkus badan juga tidak lupa dia siapkan. Satu jam kemudian terlelaplah sudah makhluk kecil yang dengan kesepakatan bersama antara kita semua yang menetapkan untuk menjadikan makhluk kecil putih itu menjadi bagian dari isi rumah (meski mendapat tentangan keras dari mbah Uti dan kita juga secara musyawarah mufakat memberi nama ‘Boggy’. Keren, kan?

Boggy tadinya menjadi bagian dari perjanjian dengan mbah Uti, bahwa dia akan menjadi satu2nya hewan yang boleh berada dirumah. Begitulah harapan saya juga. Tetapi apakah demikian kejadiannya? Nah, rekan2, semua saja yang datang di blog keluarga ini, Boggy ternyata bukan satu2nya, dia adalah awal dari datangnya teman2 atau saudara2 Boggy yang se ibu dan tidak jelas siapa bapaknya. Begitulah!

Disini, di blog keuarga ini saya ingin sekali bercerita tentang kucing2 anak saya si mbarep yang jumlahnya puluhan. Ada kesedihan, ada kepedihan, ada hal-hal yang tidak bisa dinalar dan yang terpenting ada pembelajaran yang bisa saya lakukan terutama terhadap dua anak saya dan beberapa anggota keluarga yang hidup serumah.

Disini saya akan berusaha untuk bisa bercerita secara detil, runtun dan bisa menggambarkan kisah yang sebenarnya dari setiap peristiwa ke peristiwa sejak tahun 2005 sampai dengan saat ini. Cerita tentang Boggy dan saudara-saudaranya, musuh-musuhnya, dan pendatang-pendatang baru besar dan kecil. Tunggu ya….

Sebuah Perenungan

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Januari 17, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

Ini mungkin hal yang biasa bagi semua keluarga di negara kita, it’s common sense, tetapi saya yakin ada yang tidak dijadikan ‘terbiasa’ yaitu mendokumentasikan hal yang biasa tersebut. Apakah itu? Diskusi seru dimeja makan, ditempat tidur antar ibu dan anak. Saya terbiasa menjadi ’sparing partner’ bagi 2 anak saya yang saat ini kuliah di Fakultas Hukum dan yang seorang lagi masih duduk di kelas 6 SD. Saya menyebutnya dengan sparing partner karena mereka tidak segan ‘membanting’ saya dengan fakta tulisan dan gambar ataupun referensi tulisan maupun orang untuk setiap topik diskusi. Saya sendiripun terkadang lupa bahwa perdebatan seru yang sedang berlangsung yang melibatkan diri saya dan makhluk lain tersebut tidak berimbang artinya dari segi usia, dan agak memalukan karena dengan anak sendiri. Kenapa memalukan? Yah, karena terkadang saya jadi ‘gondok’, jengkel yang kelihatan buanget!

Diskusi seru yang terjadi kadang muncul dari pertanyaan bodoh si adik yang duduk di kelas 6 SD. Ini sebuah contoh, Bagas si adik bertanya, ‘kenapa Kerajaan Majapahit tidak meninggalkan istana seperti kerajaan Sriwijaya, kerajaan di Thailand, dan beberapa kerajaan lain di Indonesia yang tadinya menjadi ‘kerajaan persemakmuran’ nya Majapahit? Bisa dibayangkan betapa kelabakannya saya mendapat serangan seperti itu. Kalau saja pak Langit K H tinggal didekat rumah saya, saat itu juga saya akan bertandang ke rumah beliau untuk sama2 mengkonsepkan bentuk observasi untuk bisa menjawab keingintahuan si adik.

Terlepas dari masalah saya yang mati kutu karena tidak memiliki referensi untuk bisa menjawab pertanyaan sepele tersebut, terlintas dalam pikiran saya. Ya, kenapa Mjapahit tidak meninggalkan istana sebagai bukti keberadaan? Saya agak sulit mendokumentasikan obrolan seru ibu anak kali ini dengan topik ‘The Missing Palace of Majapahit’. Missing? Bisa jadi ya. Maybe yes, maybe no. Begitu kah? Benar kah? Kenapa tidak sedari dulu terpikirkan.

Ingin tahu apa jawaban 2 anak saya yang didepan kalimat selalu diberi tambahan kata ‘mungkin….’. Kata mereka berdua, ‘mungkin di Mojokerto itu cuma camp saja….’, ‘mungkin karena letak dan fenomena kabutnya sudah terjadi sejak dulu, jadi disitu di Mojokerto sebetulnya cuma tempat pendadaran tetapi sekaligus pintu masuk menuju kerajaan…..’, ‘kalau kita cermati dari tulisan pak Langit KH….mungkin saja di desa Tarik itu pusat pendadaran dan asrama Bhayangkara, tapi pusat kerajaan ya di Swarnadwipa’, atau di….mana ya? Nah, macet!

Jadi, saudara2ku, teman2 yang berbudi dan suka menelusuri tulisan yang bercerita tentang sejarah, kalau memiliki informasi tentang kerajaan Majapahit jangan segan2 kirim ke tempat Blog saya disini ya….Saya akan sangat berterimakasih sekali! Sungguh ya,,,,akan sangat membantu sekali bagi saya terutama sebab saya lah yang dianggap sebagai moderator merangkap nara sumber. Nah, loh!

Sebuah Perenungan

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Januari 5, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

Saya ini manusia Indonesia sejati. Karena itu adil dan makmur untuk semua adalah misi tertinggi saya. Saya ingin menjadi khalifah yang rahmatan al amin. Kemakmuran akan terwujud bila ada keadilan. Adil menurut saya adalah menjalankan manajemen mutu secara berkelanjutan. Manajemen mutu berprinsip pada 4 hal yaitu kepemimpinan, kerja tim, orientasi pada yang dilayani dan pendekatan sistem. Saya mulai dari kepemimpinan karena ini menyangkut manusia dan merupakan nafas dari kebangsaan. Kepemimpinan untuk kebangsaan. Kepemimpinan untuk keadilan dan kemakmuran. Adil makmur berawal dari kepemimpinan. Mulai dari tiap individu dalam setiap peran. Manajemen mutu juga untuk buana alit, manajemen tubuh. Perlakukan sebagai organisasi dan kostumer….

(dr. IGN Arya Sidemen, MPH, SE)