Arsip untuk Juli, 2008

Kemerdekaan Perempuan Indonesia

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Juli 25, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

Sejak kapankah perempuan Indonesia merasakan kemerdekaannya secara hakiki? Sejak era Cut Nyak Dien kah? Atau sejak era Kartini? Kemerdekaan yang secara mendasar menjadi milik perempuan Indonesia mulai dari dalam rumah sampai diluar rumah. Dihadapan suami, anak-anak, mertua dan saudara-saudara dari keluarga besar. Hak yang diberikan dengan penghargaan sebagai perempuan dan kewajiban yang dituntut dengan penerimaan yang ikhlas dari keluarga inti sampai dengan keluarga besar termasuk komunitasnya. Sejak kapankah kemerdekaan itu dimiliki?

Tulisan saya ini adalah hasil perenungan sejak SMP sampai dengan saat ini. Perenungan ini selalu terjadi karena perempuan tidak pernah berhenti menjadi obyek aktif setiap permasalahan yang terjadi di masyarakat. Tidak berhenti karena ekspos terhadap perempuan tidak pernah berhenti sepanjang tahun. Ketika banyak aparat pemerintah terbukti melakukan korupsi, ekspos media mengarah pada siapa pasangan koruptor, siapa orang ketiga dari koruptor, siapa penyebab terkuaknya praktek korupsinya sang koruptor. Ketika tokoh Islam berbicara tentang penerapan Syariat Islam untuk hukum nasional, kembali perempuan yang dijadikan fokus, mengenai busananya, perilakunya bahkan kehidupannya pada pagi, siang dan malam. Ketika krisis ekonomi mulai terasa berat, kembali perempuan menjadi sorotan karena berteriak tentang susu bayi yang mahal dan tak terbeli, tempat pelacuran jadi meningkat jumlah penghuninya. Lalu kapan laki-laki menjadi obyek? Padahal pelaku di pemerintahan sebagian besar adalah jenis kelamin laki-laki, pemimpin rumah tangga yang menetapkan kebijakan rumah tangganya adalah laki-laki, penikmat pelacur juga laki-laki.
Tetapi benarkah perempuan Indonesia belum memiliki kemerdekaannya? Perenungan dan tanya saya tentang Cut Nyak Dien yang ksatria perempuan adalah mengapa dia bisa menjadi singa betina di medan perang? Bukankah pada saat itu cerita tentang kekangan terhadap perempuan masih keras dan sulit untuk dipatahkan oleh dunia luar. Benarkah Ibu Kartini memperjuangkan emansipasinya, kemerdekaan dirinya karena dia terkekang oleh tembok tempat dia tinggal dan dibesarkan? Jika benar dia tidak mendapatkan kemerdekaannya sebagai perempuan, mengapa dia mampu berbahasa Belanda dengan fasih dan memperoleh kebebasan berkomunikasi dengan teman-temannya yang berada di luar negeri. Kalau dia tidak mendapatkan kemerdekaannya, mengapa dia bisa menjadi guru bagi perempuan-perempuan kecil disekitar rumahnya. Dari manakah Ibu Kartini memperoleh kepandaian yang bisa menjadikan dia sebagai pelopor kemerdekaan belajar bagi perempuan Indonesia. Mungkin saja Ibu Kartini menolak kawin paksa. Kemerdekaan yang dia perjuangkan mungkin saja kemerdekaan dalam memilih pasangan hidup. Saya justru khawatir kita semua telah salah menafsirkan emansipasi yang ada dalam angan-angan Kartini. Bukan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan tetapi kemerdekaan dalam mengekspresikan diri bagi perempuan. Bukan juga pingitan yang selama ini sering diangkat sebagai hal yang menyakitkan bagi Kartini. Ketika dalam pingitan, perempuan Jawa justru memperoleh pendidikan yang komplit dan komprehensif tentang harkat dan martabat sebagai perempuan dan tentu pasti membangun spiritualnya supaya selamat ketika terjun dalam kehidupan sebagai istri dan ibu bagi anak-anak yang akan lahir dari rahimnya.

Perenungan saya loncat pada mengapa saat ini terlalu banyak perempuan di Indonesia yang sudah tidak pantas mendapat predikat sebagai perempuan tiang negara. Terlalu banyak perempuan yang tidak bisa lagi menjadi contoh tauladan bagi anak-anaknya. Mengapa? Bisa saja ini disebabkan pendidikan moral, agama dan akademis yang tidak harmoni, tidak seimbang. Perempuan perlu kendali dan kendali itu dilakukan oleh orang tua, ibu terutama dan keluarga besarnya. Perempuan perlu dipingit pada masa tertentu untuk mendapatkan pendidikan yang menghantarkan dia untuk menjadi perempuan yang bermartabat dan pantas dikatakan sebagai perempuan sebagai tiang negara.

Pada era sekarang, perempuan boleh memilih untuk menjadi dirinya sendiri, menjadi apapun yang dia angankan. Perempuan yang laki-laki ataukah perempuan yang akan menjadi panutan bagi anak-anaknya, masyarakat sekitarnya dan menjadi tiang negara. Perempuan memiliki hak untuk mengekspresikan kebebasanya dengan berbusana yang diinginkan.

Bagaimana dengan perempuan berjilbab? Apakah perempuan berjilbab kehilangan kemerdekaannya? Untuk sementara ini masih banyak orang beranggapan bahwa jilbab membelenggu kemerdekaan perempuan Perempuan berjilbab atau berkerudung sebetulnya bukan perempuan yang kehilangan kemerdekaan dirinya. Justru dengan mengenakan jilbab, perempuan merebut kemerdekaan dirinya. Dengan mengenakan jilbab yang benar, dia akan terbebas dari kesan keperempuanannya yang membawa ‘keindahan’ seorang perempuan yang mengundang mata untuk memandang. Bukankah dengan berjilbab perempuan justru memperoleh kemerdekaannya berekspresi tanpa mengkhawatirkan ‘keindahan’ kodratinya diganggu karena ada yang terganggu?

Jadi meski masih ada pro dan kontra tentang jilbab yang pada saat ini sering dikonotasikan sebagai mode atau budaya semata, menurut saya pribadi, berjilbab artinya perempuan siap merebut kemerdekaannya mengekspresikan diri untuk setara dengan laki-laki dengan menyadari kodrat keperempuannya. Tanpa mengganggu mata orang lain karena keindahannya sebagai perempuan. Atau tanpa menimbulkan rasa sirik dan dengki dari kaum perempuan sendiri. Dengan berbusana muslim dan berjilbab perempuan akan tampak lebih santun. Adakah yang tidak mengakui itu semua?

25 Juli 2008

Kucing si Mbarep Sakit

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Juli 21, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

Dia lahir dari mommy Ling Ling yang masih muda usia. Ling Ling belum layak untuk menjadi ibu dari anak2nya karena dia masih terlalu kecil baik badan maupun usianya. Tapi rupanya telah terjadi ‘kawin paksa’ saat dia lari dari rumah untuk berjalan-jalan mengelilingi kompleks perumahan. Setelah 3 hari menghilang Ling Ling pulang dengan badan kotor, lelah, terlihat sakit dan jadi pendiam. Rupanya telah terjadi sesuatu pada dirinya.

Si Mbarep marah ketika tahu Ling Ling bunting, tetapi kepada siapa? Terlalu banyak kucing garong yang berkeliaran diluar rumah. Dan Ling Ling terlalu cantik untuk tidak digarong habis-habisan. Tidak perlu disesali karena sudah terjadi. Aku menasehati si Mbarep supaya menjaga makanan Ling Ling supaya anak-anaknya ketika lahir bisa sehat-sehat dan lucu-lucu.

Ling-Ling berhasil menjaga kehamilannya sampai waktunya melahirkan. Ada 4 ekor anaknya yang lahir dengan cepat dan selamat. Warna bulu 3 anaknya dominan emas dan sedikit warna putih dan hitam dan 1 ekor warna putih kombinasi hitam dibagian kepala.

Anak-anak Ling Ling rupanya sangat rakus minum ‘ASI’ sehingga kecepatan tumbuhnya luar biasa. Ling Ling si ibu muda perlu diacungi jempol dengan perhatian yang diberikan ke anak-anaknya. Sikapnya benar-benar menunjukkan sikap seorang ibu yang sangat perhatian terhadap gizi anak-anaknya. Dia rela bertarung untuk mendapat jatah makan yang lebih dengan kucing jantan atau siapa saja yang biasanya damai saja hidup serumah. Yang dia pikirkan adalah segera masuk ketempat 4 bayinya disembunyikan untuk segera memberikan ASI nya. Mungkin dia tahu harga susu mahal dan susah untuk terbeli olehnya.

Tapi rupanya anak-anakku, keponakan-keponakan yang sering datang ke rumah untuk bermain dengan kucing -kucing si Mbarep tidak diperkenankan untuk bergembira dan terus memiliki anak-anak Ling Ling yang 3 ekor. Ketika bayi-bayi itu mulai lucu dan bisa diajak bermain, mereka terserang penyakit yang membuat mereka malas makan, diare, berat badan turun drastis, muntah-muntah dan ‘pergi’ dengan tangan memegang erat tangan si Mbarep. Mereka pergi satu persatu di siang hari, di malam hari dengan meninggalkan Putih anak terakhir Ling Ling yang bisa melawan penyakit aneh itu. Dan tentu saja meninggalkan duka yang dalam di hati si Mbarep dan keponakan-keponakan yang rajin menengok dan bermain dengan bayi-bayi Ling Ling itu.

Si Putih anak bontot si Ling Ling bisa melewati masa kritis dan berkembang pesat menjadi kucing yang sintal dan lucu. Kepalanya terkesan botak dan aneh dia terkesan memiliki kepintaran yang lebih dibanding kucing sebaya yang lain dan serumah. Setiap dipanggil namanya dia akan datang dan segera mengeluskan ‘botak’nya ke kaki siapa saja yang memanggil dia. Sikapnya santun dan tidak terburu. Makanan yang disiapkan untuk dia bersama yang lain tidak pernah dia sentuh dengan cara berebut. Dia dengan santun menunggu teman-temannya selesai makan baru dia akan mendekat dan menghabiskan yang tersisa. Tapi karena sikap santunnya si Mbarep selalu wanti-wanti supaya segera mengisi piring yang tinggal tersisa sedikit untuk jatah si Putih.

Saat ini si Putih sedang sakit yang juga agak parah. Tenggorokannya sakit ketika dipakai makan dan menelan. Badannya menjadi kurus dan lemah. Si Mbarep tidak tega membawa Putih ke dokter karena pengalaman buruk ’suntik mati’. Kucing kesayangannya beberapa mati karena mendapat suntikan dari dokter hewan tempat dia menggantungkan harapan untuk kesembuhan kucing-kucingnya yang sedang sakit. Dia mencoba merawat Putih dengan beberapa ramuan tradisional yang pernah dia gunakan untuk mengobati beberapa kucingnya yang sakit serupa sejak dia cidera hati karena ’suntik mati’ dari dokter hewan langganannya.

Hatiku juga teriris-iris melihat fisik Putih yang kering dan lemas. Tetapi kepandaian dia dan semangat dia untuk sembuh membuat si Mbarep tetap bersemangat untuk menjaga dan terus menjaga, mengobati dan menjaga setiap malam.

Setiap menengok Putih aku selalu memohonkan kesembuhan untuknya kepada Allah SWT. Aku memang tidak bisa memeluk dia rapat seperti yang dilakukan si Mbarep, tetapi elusan tanganku di kepalanya dan lehernya aku yakin membuat dia merasa nyaman dan merasa disayang.

Ya Allah, sembuhkan Putih, dia kucing kecil pintar dan santun. Kucing kecil yang disayang anakku si Mbarep. Hamba merasa iba melihat kesedihan anak hamba Ya Allah, sembuhkan Putih dan kuatkan hati anak hamba si Mbarep. Hamba memohon kepadaMu Ya Allah. Ampuni hamba yang berani meminta paksa kepadaMu Ya Allah.

21 Juli, 19.12 petang.

Renungan Tentang Islam

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Juli 19, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

Ketika semua orang besar berpolemik tentang agama yang paling benar, saya memilih untuk diam tepekur, kerdil dan merenung. Saya membiarkan batin bergolak dan bertanya-tanya dan menuangkan disini. Benarkah Allah hanya milik orang Islam? Kasihan Allah jika demikian sebenarnya. Berarti Allah hanya ditempatkan pada ruang khusus tertutup dan jangan-jangan pengap! Kasihan Allah terlalu dikecilkan artinya. Benarkah yang merasa dirinya Islam telah benar-benar Islam? Apa makna Islam sebenarnya? Haruskah ada pemaksaan untuk menjadi Islam? Bukankah Islam tidak butuh pendukung untuk kebesaran keislamannya? Lalu mengapa masih saja kita temukan sikap keras demi menegakkan Islam? Tidakkah seharusnya kekuatan Islam dan Islam akan makin menjadi besar dan kuat karena sikap Islam yang sangat Islam (ikhlas).

Agama bisa menjadi kerdil justru ditangan umatnya. Allah disusutkan kehadirannya, hanya sebatas tembok2 rumah ibadah. Bahkan Allah hanya menjadi milik orang2 suci dan bersih, orang-orang yang baik hati, baik budi dan tidak sombong. Para pemuka agama tanpa sadar menciptakan fatwa dan doktrin-doktrin untuk mengukuhkan kehadiran Allah hanya sebatas di rumah ibadah saja. Pasar, rumah sakit khusus penderita AIDS, rumah bordil, rumah komunitas miskin yang kumuh, dianggap bukan tempat yang pantas untuk sholat, karena tempat beribadah haruslah tempat yang bersih dan suci. Padahal disitulah tempat permasalahan kemanusiaan terjadi. Seharusnya Allah hadir ditempat-tempat semacam itu untuk memberikan hidayahnya. Bukankah begitu….?