Sebelum tulisan ini aku pernah menceritakan beberapa kucing lucu dan menyenangkan untuk anak2 ku, keponakan2 dan diriku sendiri. Salah satu yang datang adalah anak kucing yang kalau aku taksir baru berusia sekitar 2 bulan dengan warna bulu hitam gelap polos tapi dihiasi warna putih dibagian dada, leher, perut dan seluruh telapak kaki. Dari kejauhan terutama ditempat yang gelap dia akan terlihat seperti mengenakan rompi dan kaos kaki warna putih. Dari ‘genit’nya aku menerka dia betina jadi aku kasih nama lucu ‘Mumuy’. Tetapi dari perdebatan panjang setelah sempat menjungkir balikkan badan si Mumuy, anak2ku dan semua keponakan menetapkan bahwa dia jantan jadilah nama Mumuy diganti menjadi ‘Momok’ karena dia hitam dan matanya berwarna kuning gelap.
Mumuy, Momok, kini menghuni salah satu ruangan rumah2an kucing yang terbuat dari kardus dihalaman tengah rumah yang kebetulan memang kosong dan berpasir. Kita bisa melihat tingkah laku mereka lewat kaca di ruang tengah. Mumuy, lucu karena kecil tetapi sintal dan pintar memanjat apa saja yang bisa dia panjat di dalam kamar anak-anak. Suatu ketika Mumuy pernah diare berat sampai lemas selama beberapa hari. Ini adalah pengalaman pertama anak-anak dan aku melihat kucing kecil yang sakit. Sedih, karena tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya yang kita lakukan adalah memberinya makan dengan makanan kaleng seperti saran dokter hewan dekat rumah. Minum mesti diperbanyak supaya tidak lemas dan bisa melawan sakit cacingan seperti diagnosa dokter. Dan, setelah melalui perjuangan yang panjang, Mumuy sembuh meski badannya akhirnya menjadi kurus dan kering, Sebagian bulu-bulu hitam dan putihnya rontok mengerikan karena tulang kaki jadi terlihat jelas.
Karena satu hal aku sekeluarga harus pindah rumah dan menempati salah satu rumah yang dekat pantai. Ternyata Boggy, Jimbun, Kiki, Mumuy dan Alvina, suka dengan suasana dan udara di rumah dekat pantai ini. Mumuy jadi tumbuh memanjang dengan kaki yang langsing tinggi dan cara berjalan seperti peragawati. Dia anggun dengan warna kulit yang hitam. Wajahnya setelah dewasa terlihat melankolis dan manja khas Mumuy yang suka mengangkat satu kakinya ketika minta dibuatkan makan. Hanya satu yang membuatku kesal, dia suka lari keluar rumah selama berhari-hari dan masuk melalui jendela kamar anakku yang mbarep, dan yang akhirnya tidak pernah menutup jendela kamar karena khawatir Mumuy kedinginan diluar rumah setelah jalan2 dengan pacarnya.
Bulan-bulan berlalu begitu saja, dan semua kucing2 sekarang beranjak dewasa. Tiba-tiba anakku Mbarep melihat perubahan pada wajah Mumuy. Dia jadi kelihatan ‘tembem’ dan gemuk. Jarang keluar rumah dan kerjanya diam, tiduran, minta makan dan tidur lagi. Melihatnya diam begitu, membuat kita berpikir Mumuy sakit. Untuk memudahkan penanganan kalau memang dia sakit, kita putuskan untuk ‘dikandangkan’ dengan Boggy yang kalem dan baik hati terhadap Mumuy. Berhari-hari tidak ada perubahan tingkah laku artinya kalau sakit menjadi parah atau kembali lincah. Mumuy tetap diam, kalem, sukanya tidur dan makannya banyak. Kita semua bertanya-tanya, kenapa si Mumuy? Akhirnya disuatu pagi tanda tanya besar di kepala kita terjawab, 4 bayi kecil tergeletak di kandang dekat Mumuy, dijilati lembut dan dibantu Boggy membersihkan bercak darah dengan menjilatnya pelan. Boggy yang berwajah garang dan bersuara keras menggeram ternyata terhadap bayi Mumuy, begitu lembut. Subhanallah….
Pada saat yang bersamaan sebetulnya ada satu ‘tamu’ kucing lagi yang tidak diundang dan karena mata sipitnya dia akhirnya berwajah khas oriental, kita sepakat kasih nama dia Ling Ling, yang juga melahirkan anak2nya yang berjumlah 4 ekor. Ling Ling menjalani proses kelahiran anaknya di kamar mandi tabung yang kering karena anak2ku lebih memilih mandi di bathtube. Ling Ling merasa nyaman dengan ‘apartemen’ tabungnya yang hangat kalau pintu kamar mandi tabung itu aku tutup.
Aku tidak ingin bercerita tentang Ling Ling saat ini. Aku ingin bercerita tentang Mumuy yang menurutku memberikan contoh keikhlasan seorang ibu. Suatu ketika Ling Ling diserang diare berat dan harus dipisahkan dari anak2nya. Kita sempat bingung harus berbuat apa terhadap anak2nya yang masih harus disusui. Akhirnya kita coba dengan menghadirkan Mumuy didekat mereka. Alhamdulillah, Mumuy ternyata menyayangi anak2 Ling Ling. Dia jilati satu persatu bayi2 Ling Ling dan kemudian dia biarkan bayi2 itu menyusu dengan lahap. Begitulah akhirnya setiap hari yang dilakukan oleh Mumuy. Tetapi ditengah ketenangan yang kita rasakan tiba-tiba muncul ‘masalah’ baru. Ditengah malam buta tiba2 kita dikejutkan dengan suara bayi2 kucing yang menyayat karena ketakutan atau kelaparan dari arah kandang Mumuy dan Boggy. Kita sempat berpikir bahwa anak2 Mumuy keluar kandang atau terjatuh dari kandang. Ternyata bukan, ada bayi2 kucing yang sedikit lebih besar dari bayi2 Ling Ling maupun Mumuy. Bayi kucing darimana? Si Mbarep tidak ingin berpikir rumit, yang dia pikir kasihan bayi kucing ini pasti kelaparan dan kedinginan. Mata Mumuy melihat bayi2 itu dengan tegang dan siap berlari keluar kandang. Dan ketika bayi2 itu didekatkan, tidak menunggu lama bayi2 itu sudah mendapatkan kasih sayang dari Mumuy dan dengan lidahnya dengan memberikan kasihnya. Jadilah dalam kandang itu Mumuy menyusui anak2nya yang 4 ekor ditambah anak2 kucing yang bertamu malam2 yang 4 ekor juga.
Untunglah Ling Ling segera sembuh jadi tugas menyusui bisa diserahkan kembali ke Ling Ling tetapi Mumuy tetap saja merasa harus bertanggungjawab terhadap anak2 susuannya. Sesekali dia datang ke ‘apartemen’ Ling Ling untuk ’say hello’ yang dilanjutkan dengan acara menyusui anak2 Ling Ling.
Mumuy yang hitam dengan mata lembut dan wajah anggun. Gaya manjanya ketika minta diberi makanan ekstra sungguh menyentuh hati dan benar2 mengikat hati anak2ku juga aku. Terhadap Mumuy seisi rumah menjatuhkan respek dan nilai hormat yang tinggi. Santunnya ketika diberi makan, ketika minta makanan ekstra, ketika minta dimanja atau dibersihkan bulunya. Tidak nampak sama sekali Mumuy hanya kucing lokal. Satu hal yang mengherankan adalah perilaku dia sebagai betina, dia sangat setia terhadap pasangannya kucing yang berada diluar rumah. Mereka selalu janji bertemu pada jam tertentu dan selalu pulang tepat waktu. Kita mengamati perilaku pacaran mereka setiap sore dan ketika pulang. Pacar Mumuy selalu menunggu diseberang pagar dengan sikap santun tanpa berteriak memanggil seperti yang dilakukan kucing liar yang lain. Ketika melihat Mumuy keluar dari halaman dia akan segera beranjak dari duduknya kemudian berjalan berjajar menuju rumah kosong dekat rumah. Dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Mumuy ku tiba2 akan muncul di jendela atas dengan diantar pacarnya yang dengan gagah menunggu sampai Mumuy turun dari jendela.
Suatu ketika Mumuy tidak pulang padahal waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Anakku si Mbarep mulai gelisah tetapi tidak berani mencari Mumuy diluar rumah seperti yang dia lakukan pada malam2 sebelumnya. Dia menunggu dengan gelisah dan makin gelisah ketika pacar Mumuy berteriak keras di jendela kamarnya tempat Mumuy selalu diantar pulang. Dia tetap duduk santun diteras jendela sampai waktu menjelang pagi. Ketika subuh pacar Mumuy masih tetap duduk santun dengan mata memandang si Mbarep dengan pandangan yang berbeda dengan waktu2 sebelumnya. ‘Dimana Mumuy?’ tanya si Mbarep. Aneh, dia menjawa, ‘Meiiyow….’. Suaranya lirih pedih….dan aku merasa bisa merasa, bisa merasakan kepedihan dari suaranya. Aku berdoa, mudah2an ini hanya aduankesedihan karena Mumuy diambil kucing lain. Mudah2an begitu. Tetapi ternyata tidak, ketika pagi mulai terang, Satpam yang biasa bersepeda berkeliling kawasan perumahan datang dengan sebuah kardus besar dan bersih mengabarkan bahwa Mumuy ku telah terluka parah dan tidak tertolong lagi karena tertabrak mobil yang dikendarai tetanggaku yang pulang malam dalam keadaan mabuk. Pedihnya hatiku dan hati anak2ku, keponakan2ku ketika tahu Momok, Mumuy, kucing hitamku yang berkaos kaki, yang lembut, yang manja dan anggun, yang berhati ibu dan ibu teladan telah pergi. Si Mbarep yang pmarah tidak bisa mengeluarkan amarah, dia hanya mampu mengeluarkan suara tersendat,’aku sudah merasa Mumuy mau pergi….siapa orang yang tidak punya hati yang tega seperti ini…..Si Mbarep susah melupakan peristiwa ini, dan jujur, aku sampai detik inipun ketika menulis kisah Mumuy kucing yang aku beri respek tinggi masih merasakan denyut yang sakit dan pedih mengingat kepergian Mumuy. Airmatakupun masih menetes deras. Mumuy sudah pergi tetapi dia masih meninggalkan kenangan dan 1 anak yang seanggun Mumuy, Shasha namanya. Dia mendapatkan perhatian dan kasih yang lebih dari si Mbarep dan si Adik, bungsuku. Selamat jalan Mumuy, kamu ibu teladan dan memberi pembelajaran pada seisi rumah.
Handari Y Alchosih