Jangan Menangis, Engkau Laki-Laki
Saya tertarik untuk mengutip salah satu artikel dalam buletin Qiblati yang menurut saya penting untuk dijadikan suatu bahan pendidikan kejiwaan bagi anak-anak kita terutama anak laki-laki kita. Artikel ini ditulis oleh Sdr. Iman Zubair dan akan saya kutip persis sebagaimana beliau menuliskannya dalam buletin Qiblati. Bismilllahirrochmanirrohim…
Sudah menjadi kebiasaan ketika salah seorangputra kita menangis, banyak para bapak dan ibu yang mengulang-ulang ungkapan: ‘Jangan menangis, engkau ini laki-laki’, tanpa mengetahui pengaruh psikologis dan biologis akibat dari perkara ini. Pendidikan terhadap anak laki-laki diusahakan menghalanginya dari menangis, dan bahwa menangis itu hanya untuk kaum wanita, karena menangis dianggap lemah, dan tidak pantas bagi kaum laki-laki.
Sesungguhnya mengungkapkan reaksi dengan airmata menyediakan sebuah kesempatan bagi seorang manusia untuk menghilangkan perasaan yang meluap-luap dari dalam. Menahannya kadang berpengaruh terhadap sisi kejiwaan yang besar dan membahayakan. Seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan, adalah makhluk hidup yang dipenuhi dengan perasaan yang mengandung kegembiraan dan kesedihan, kesusahan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, orang tua wajib mengizinkan anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan untuk mengungkapkan perasaannya dengan menangis saat dibutuhkan pada satu waktu tertentu. Jika tidak, maka mereka akan mengkhususkan tangisan itu hanya untuk wanita hingga mereka menjadi lemah dan menarik rasa iba orang melalui tangisannya. Dan telah dibuktikan secara ilmiah bahwa menagis akan membebaskan tubuh dari muatan negatif dalam dirinya. Jika tertahan bisa jadi kelak akan berwujud menjadi perbuatan kekerasan atau gangguan jiwa.
Oleh karena itu, majalah Qiblati memberikan peringatan kepada para orang tua dari ucapan:‘Jangan menangis anakku, engkau adalah laki-laki’. Tetapi yang benar adalah, ‘Jangan terus menangis, kendalikan tangisanmu. Menangis terus tidak menyelesaikan masalah’. (AR).
Saya tidak perlu memberikan komentar yang panjang, saya hanya ingin mengatakan bahwa ada kemungkinan banyak kejadian kekerasan yang kita lihat di media elektronik dan kita baca di media cetak, berawal dari sikap orang tua yang salah. Dan, ada kemungkinan ‘kecengengan’ yang ditunjukkan oleh para pimpinan kita juga berawal dari sikap yang salah tersebut dari orang tua di masa lalu, masa kanak-kanak. Walahualam…
Handari,
masmirah331@yahoo.com; www.handari.wordpress.com