Renungan Dari Tanah Suci
Empat puluh hari berada di Tanah Suci untuk melaksanakan Rukun Islam ke 5 membawa banyak perenungan dalam diri. Sesuai dengan do’a sejak di kampung halaman, berharap Allah Azza Wa Jalla mengirimkan ‘guru’ terbaik untuk bertanya atau memberi ilmu yang benar-benar dibutuhkan. Ternyata ‘guru kiriman’ itu memang datang dalam berbagai bentuk. Bisa berbentuk manusia dari sembarang etnis artinya tidak selalu Melayu yang bisa mudah berkomunikasi, bisa berbentuk buku atau media cetak seperti buletin atau koran, bisa hasil dari nguping diskusi teman 1 kamar dan tinggal melakukan cross check ke orang yang ahli.
Alhamdulillah saat di Tanah Suci saya benar-benar kosong jadi amat sangat mudah ilmu yang didapat bisa begitu saja menempati ruang dalam memori. Kesadaran bahwa Allah Azza Wa Jalla menjawab permohonan yang saya panjatkan justru ketika saya membuka blog yang sudah lama tidak terisi. Saya ingin berbagi dengan menuliskannya disini. Pengetahuan yang sederhana tetapi yang kadang sangat memberi warna kehidupan masyarakat.
Hari ini saya menuliskan tentang Nabi Muhammad Rasulullaah, yang meski mendapatkan janji pengampunan dosa dari Allah SWT, tetapi yang beliau lakukan adalah selalu membaca Istighfar minimal 100 kali juga Laa ilaaha illallaah sebanyak 100kali dan ditutup dengan Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullaah… Bodohnya…jika selama ini istighfar yang saya lakukan tidak pernah sebanyak itu.
Saya berjanji untuk ‘meniru’ semua yang dicontohkan Baginda Rasul dan memulainya dengan yang paling mudah. Astaghfirullah hal adzim….
9 Jnuari 2009, Handari