Renungan Dari Tanah Suci

Ketika menunggu sholat Ashar tiba di Masjid Nabawi, saya teringat sebuah pertanyaan yang muncul dari dalam hati. Mengapa perempuan muslimah tidak diharapkan menjadi pemimpin suatu kaum? Yach, kenapa? Selama ini jawaban yang saya peroleh dari hasil debat kusir cukup banyak dan cukup lumayan untuk membuat hati saya terpuaskan. Tetapi jawaban yang berdasarkan suatu ilmu yang hakiki dan contoh-contoh nyata dari Baginda Rasul masih belum saya dapatkan. Mungkin karena saya belum menemukan guru yang tepat, informasi yang benar, buku sebagai referensi yang akurat dan yang pasti saya belum serius mencari referensi pendukung.

Ketika pertanyaan hati tentang perempuan muslimah sebagai pemimpin kaum belum terjawab tuntas, muncul lagi sebuah pertanyaan perempuan muslimah berpolitik. Waduh, ini lagi….pasti jawabannya akan lebih rumit. Adakah keluarga Baginda Rasul yang ‘terjun’ ke politik? Saya belum menemukan referensi sebagai informasi pendukung tentang perempuan muslimah berpolitik. Tetapi saya sudah bisa membuat catatan khusus beda tentang memimpin kaum dan berpolitik. Dan jujur saya lebih setuju perempuan muslimah terjun ke dunia politik daripada perempuan muslimah berpikir untuk memimpin suatu kaum. Kenapa? Saya belum menemukan jawaban tetapi saya berjanji akan menuliskan jawaban tentang alasan2 saya di blog ini setiap saya menemukan jawaban yang didukung dengan referensi orang maupun buku. Begitu ya…

Salam,

Handari

masmirah331@yahoo.com ; www.handari.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.