Sarjana2 Tatanegara Seluruh Dunia

37. Hegel (1818)

Hegel seorang professor filsafat dalam Universitas Berlin yang meninggal dunia di 1831 telah mengarang buku-buku yang berisi filsafat yang sangat pentingnya bagi kemajuan ilmu tatanegara seumumnya.

Hegel telah dapat menyempurnakan dan menyelesaikan filsafat idealistis yang dimulai dengan Imanuel Kant itu.

Sebagai filsuf idealis tulen maka beliau menganggap ide atau cita-cita itulah sebagai pusat dari segalanya yang dapat menentukan keadaan. Bagaimana sifatnya sesuatu barang itu, bukanlah dapat kita kenal dari kenyataannya tetapi melulu karena kita memikirkannya.

Cita-cita itulah yang berdaulat dan yang menetapkan keadaan-keadaan. Barang-barang itu hanya ada dalam pikiran kita.

Jika kita mau mengadakan gerakan apa, cukuplah kita tanam cita-cita itu dalam sanubari rakyat dan jika cita-cita gerakan itu telah masak dalam pikiran rakyat, maka gerakan itu akan menghasilkan apa yang kita cita-citakan. Dunia dapat diubah dengan penerangan-penerangan yang sejitu-jitunya yang harus ditanam dalam sanubari rakyat. ‘Keadaan dunia tergantung dari cita-cita kita.

Hegel maju lebih jauh dari Kant sebab Hegel menguraikan bahwa cita-cita itu ialah selalu bergerak dan berubah, tidak abadi seperti Kant, tetapi dapat berubah menurut kodratnya sendiri.

Kemajuan cita-cita kita itu bukan merupakan gerak yang ngawur, tetapi selalu menurut hukum-hukum yang tertentu yaitu menurut ‘wet dynamica’ dari cita-cita itu.

Hukum dynamica, hukum perubahan yang menguasai cita-cita kita ialah hukum atau ‘kodrat dialectiek’, yaitu perubahan
‘karena pertentangan’.

Tiap-tiap cita-cita mengandung anasir cita-cita yang sebenarnya bertujuan sebaliknya. Dalam sesuatu cita-cita, bagaimana logis dan tetapnya, tentu terdapat bagian-bagian yang merusak kebulatan cita-cita itu dan makin lama makin bertambah kuatnya, sehingga dapat merusak atau mengubah tujuan cita-cita yang semula bulat itu.

Tiap-tiap cita mengandung pertentangannya yaitu ‘antithese’nya sehingga karenanya maka ‘these’ semula lalu berubah menjadi ‘synthese’, yang menjadi ‘these’ baharu dalam tingkatan yang lebih tinggi lagi. ‘These’, ‘antithese’, ‘synthese-these’ dan seterusnya itu ganti berganti sehingga terus menerus cita-cita kita itu meningkat kearah kemajuan.

Kemerdekaan sebagai ‘these’, mengandung anasir ikatan sebagai ‘antithese’, sehingga kebebasan itu bisa berubah menjadi ketertiban sebagai ‘antithese’. Kesenangan mengandung kesedihan sebagai ‘antithese’ yang dapat melahirkan rasa ‘teposliro’. Kegembiraan mengandung ‘antithese’ kesangsian yang menimbulkan sikap awas dan waspada dsbnya.

Perubahan-perubahan dalam cita-cita kita itu menyebabkan pula perubahan dalam kenyataan yang mengelilingi kita.
Perubahan-perubahan pikiran dapat mengakibatkan perubahan-perubahan kenyataan dalam masyarakat.

Pikiran-pikiran mengagumi kerajaan ‘absoluut’, dapat berubah menjadi aliran kerajaan yang agak bebas, berubah lagi menjadi aliran kerajaan konstitusionil dsb. Perubahan-perubahan dalam masyarakat selalu
mengikuti perubahan dalam alam cita-cita.

Negara tidak terjadi karena kontrak, tetapi karena kita pikirkan. Jika pikiran kita belum sampai yaitu belum ‘Staatbewust’ atau ‘sadar bernegara’, maka Negara itupun lenyap dan tak ada lagi.

‘Kesadaran Negara’ itulah pembentuk Negara. Cita-cita itulah primair, yang berdaulat dan menentukan susunan masyarakat dan Negara.

  • Cara berpikir dengan ‘dialectiek’ itu nantinya akan digunakan oleh kaum
    ‘dialektis-materialis’, yaitu Marx Engels sebagai dasar uraiannya tentang
    ‘historis-materialisme’, tetapi metodenya Hegel itu dijungkirbalikkan, yaitu
    dari idealis-dialektis menjadi materialis-dialektis. Bukan pikiran yang
    menetapkan keadaan, tetapi sebaliknya keadaanlah yang menetapkan pikiran.
  • Pikiran hanya ‘loteng atas’ yang mengikuti susunan bawahnya, yaitu
    kenyataan. Pikiran ialah ‘secundair’, begitulah Marx.

(Pandangan Sarjana2 Tatanegara Seluruh Dunia dari Socrates hingga Ir. Soekarno, yang ditulis oleh Mr. Soenarko, Penerbit NV. “Hidup” Jakarta, 11 Oktober 1951, dengan perubahan beberapa kalimat tanpa mengubah arti).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.