Saya tidak setuju kalau circumcisi akan memutus HIV. Kenyataannya adalah, penis berkulup memiliki antibodi alami (yang mekanismenya akan hancur kalau kulup itu dibuang. belum lagi mempertimbangkan fungsi seksual dari kulup itu sendiri, yang memiliki saraf yang sensitif terhadap sentuhan, gerakan dan panas.
Mengenai studi di Uganda dan Kenya, mungkin memang benar orang yang tertular HIV adalah orang yang bersunat, tetapi anda tidak memperhitungkan negara seperti Lesotho, Zimbabwe, Malawi, Tanzania, Kamerun, Rwanda dan Haiti di mana lebih banyak pria bersunat yang tertular HIV, ternyata. Setidaknya anda benar soal perilaku seksual yang aman cenderung menolak HIV, sih.
HIV dianggap sebagai penyakit yang penyebaran dan penularannya melalui perilaku. Jadi semestinya tidak perlu dihubungkan dengan suatu tindakan atau perlakuan yang dianggap bisa menjadi pencegahan penularan misalnya ‘sunat/circumsisi’. Kalau toh, ada suatu penelitian membuktikan bahwa sunat/circumsisi menunjukkan data penularan yang rendah dan signifikan di suatu tempat tertentu tetap saja akan mendapat penolakan dari komunitas yang mempercayai adanya suatu sistim kekebalan pada penis yang tidak disunat. Yang terbaik memang fokus pada perilakunya. Untuk yang belum tertular sebaiknya percaya bahwa penularan HIV disebabkan oleh perilaku yang ‘tidak bertanggungjawab’. Misal, berganti-ganti pasangan seks (bisa jadi salah satu diantaranya adalah pengidap HIV); termasuk berganti-ganti jarum suntik di kelompok IDU (terbukti di kelompok IDU data tertular HIV nya tinggi. Ada kemungkinan tertular virus dari jarum suntik yang dipakai bersama dan atau hubungan seks bebas diantara mereka yang kemungkinan diantara mereka adalah pengidap HIV); penggunaan alat2 yang tembus kedalam pembuluh darah misal alat2 kedokteran, tatto, cukur, dlsb yang tidak steril dan bekas digunakan pada seseorang yang mengidap virus HIV, Hepatitis. Jadi apa sebaiknya yang dilakukan dalam rangka pencegahan? Sebaiknya tidak mempercayai bahwa sunat aman dari penularan HIV. Gunakan kondom jika ingin melakukan seks yang beririko. Lbih aman lagi kalau kita hanya berhubungan seks dengan pasangan yang kita yakin akan kesetiaannya sebagai pasangan. Gunakan jarum steril untuk tindakan penyuntikan atau tindakan lain yang menembus pembuluh darah.
Desember 4, 2011 pada 8:49 am
http://www.nocirc.org/publish/11-HIV.pdf
http://www.doctorsopposingcircumcision.org/info/HIVStatement.html
http://www.nocirc.org/2008-07_Mothering-Fauntleroy.pdf
http://www.measuredhs.com/pubs/pdf/CR22/CR22.pdf
Saya tidak setuju kalau circumcisi akan memutus HIV. Kenyataannya adalah, penis berkulup memiliki antibodi alami (yang mekanismenya akan hancur kalau kulup itu dibuang. belum lagi mempertimbangkan fungsi seksual dari kulup itu sendiri, yang memiliki saraf yang sensitif terhadap sentuhan, gerakan dan panas.
Mengenai studi di Uganda dan Kenya, mungkin memang benar orang yang tertular HIV adalah orang yang bersunat, tetapi anda tidak memperhitungkan negara seperti Lesotho, Zimbabwe, Malawi, Tanzania, Kamerun, Rwanda dan Haiti di mana lebih banyak pria bersunat yang tertular HIV, ternyata. Setidaknya anda benar soal perilaku seksual yang aman cenderung menolak HIV, sih.
Desember 14, 2011 pada 3:59 am
HIV dianggap sebagai penyakit yang penyebaran dan penularannya melalui perilaku. Jadi semestinya tidak perlu dihubungkan dengan suatu tindakan atau perlakuan yang dianggap bisa menjadi pencegahan penularan misalnya ‘sunat/circumsisi’. Kalau toh, ada suatu penelitian membuktikan bahwa sunat/circumsisi menunjukkan data penularan yang rendah dan signifikan di suatu tempat tertentu tetap saja akan mendapat penolakan dari komunitas yang mempercayai adanya suatu sistim kekebalan pada penis yang tidak disunat. Yang terbaik memang fokus pada perilakunya. Untuk yang belum tertular sebaiknya percaya bahwa penularan HIV disebabkan oleh perilaku yang ‘tidak bertanggungjawab’. Misal, berganti-ganti pasangan seks (bisa jadi salah satu diantaranya adalah pengidap HIV); termasuk berganti-ganti jarum suntik di kelompok IDU (terbukti di kelompok IDU data tertular HIV nya tinggi. Ada kemungkinan tertular virus dari jarum suntik yang dipakai bersama dan atau hubungan seks bebas diantara mereka yang kemungkinan diantara mereka adalah pengidap HIV); penggunaan alat2 yang tembus kedalam pembuluh darah misal alat2 kedokteran, tatto, cukur, dlsb yang tidak steril dan bekas digunakan pada seseorang yang mengidap virus HIV, Hepatitis. Jadi apa sebaiknya yang dilakukan dalam rangka pencegahan? Sebaiknya tidak mempercayai bahwa sunat aman dari penularan HIV. Gunakan kondom jika ingin melakukan seks yang beririko. Lbih aman lagi kalau kita hanya berhubungan seks dengan pasangan yang kita yakin akan kesetiaannya sebagai pasangan. Gunakan jarum steril untuk tindakan penyuntikan atau tindakan lain yang menembus pembuluh darah.
Desember 4, 2011 pada 9:03 am
Berikut ini sebuah bahasan tentang antibodi alami yang terdapat di penis:
http://www.circumstitions.com/Langerhans.html
http://www.cirp.org/news/healthday2007-03-05/