Arsip untuk Sebuah Renungan kategori

Berbagi Apa Yang Saya Tahu

Posted in Sebuah Renungan on Oktober 8, 2009 by Handari Yektiwi Alchosih

Sudah lama saya ragu dengan keinginan untuk berbagi apa yang saya tahu, apa yang saya baca dan apa yang saya temukan. Saya menemukan banyak tulisan menarik yang mungkin memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya. Saya temukan berbagai tulisan tentang banyak hal yang tentu saja bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga inti, teman2 diskusi termasuk anak2 saya dan teman2nya. Lalu tiba2 terbersit dalam pikiran saya untuk berbagi denggan siapa saja yang ‘mampir’ di blog ini. Nah, mulai hari ini saya akan berusaha setidaknya dalam seminggu ada tulisan yang saya pilih dengan niatan untuk berbagi dengan teman2 yang suka ‘jalan-jalan’ dari satu dunia ke dunia yang lain di dunia maya.

Salam,

Handari

Perang Bintang Sudah Dimulai

Posted in Poliik dan Hukum, Sebuah Renungan on Juni 23, 2009 by Handari Yektiwi Alchosih

Dimanakah meletakkan agama dan politik dalam tatanan negara? Cawapres Boediono meletakkan agama diatas segala-galanya. Ini bisa menimbulkan persepsi yang berbeda-beda. Ada yang menterjemahkan sebagai agama yang mengendalikan negara, agama dijadikan politik. Memang mengherankan, pak Boediono yang terkenal pintar dan bijak dibidang ekonomi ternyata tidak memiliki ke’garangan’ seperti yang dimiliki Cawapres Prabowo dan Wiranto. Setelah terpojok dengan uraian cawapres Wiranto dan Prabowo, barulah pak Boediono bisa menjelaskan dengan lugas bahwa yang dimaksud dengan ‘diatas segala-galanya’ adalah agama sebagai pengendali perilaku dari pelaku politik dan negara. Dengan menempatkan agama sebagai pengendali maka diharapkan semua berjalan sesuai dengan citra dan kepribadian bangsa Indonesia yang memiliki moral yang tinggi dan mengutamakan agama sebagai tuntunan hidup. Itulah yang ada di benak beliau dan karena beliau biasa tampil kalem, ketika bicara lugas jadi aneh dan mudah untuk dipelesetkan. Saya tidak memihak kepada 3 calon Capres dan Cawapres. Tetapi saya tidak pernah berhenti menganalisis pola pikir beliau2 itu untuk menambah khasanah berpikir saya untuk menambah keilmuan saya. Itu saja.

24 Juni 2009

Perang Bintang Sudah Dimulai

Posted in Poliik dan Hukum, Politik dan Hukum, Sebuah Renungan dengan kaitan (tags) , , , on Juni 11, 2009 by Handari Yektiwi Alchosih

Ambalat, oh, Ambalat. Seperti Prita dan Siti Hajar, Ambalat juga merupakan satu masalah penting yang bisa menjadi ‘alat uji’ kepekaan dan kepemimpinan 3 Capres dan atau 3 Cawapres. Penyelesaian yang ditawarkan berbeda satu sama lain tapi tentu saja dengan suatu alasan yang masuk akal. Penyelesaian dengan cara perang karena sikap Malaysia yang sudah sangat menjengkelkan dan berani berada ditengah kancah peperangan. Sangat membakar jiwa bagi kelompok nasionalis yang cinta tanah air. Yang lain mengkonsepkan penyelesaian dengan cara diplomatis, taktis dan strategis. Tetapi dengan sikap petinggi Malaysia yang saat ini sudah terlalu merendahkan para petinggi Indonesia tentu masih perlu dipertanyakan keberhasilannya. Yang lain lagi mengandalkan perhitungan untung rugi jadi perlu diukur, dipertimbangkan kemampuan tentara nasional kita dengan segala atribut dan keterbatasan yang nyata-nyata kita tahu persis. Dan yang terakhir disampaikan di media, negara kita lebih memilih penyelesaian masalah Ambalat dengan menggunakan hukum sipil dan bukan hukum militer. Tetapi tidak satupun yang berpikir kebelakang bahwa kita sudah berjuang untuk bisa mendapatkan pengakuan tentang eksistensi negara kita, Nusantara kita yang jelas-jelas adalah negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut.

Negara kita telah memperjuangkan Konsepsi Negara Kepulauan (Archipelagic State) yang dimuat dalam Deklarasi Juanda 13 Desember 1957 dan UU No. 4/Prp. 1960. Manifestasi politis dari Konsepsi Negara Nusantara ini disebut dengan Wawasan Nusantara yang merupakan dasar pokok dari pelaksanaan GBHN dalam Ketetapan MPR No. VI tahun 1973. Wawasan Nusantara merupakan suatu konsepsi kesatuan politik dari bangsa dan negara yang didasarkan atas konsepsi Nusantara sebagai konsepsi Kewilayahan Nasional.

Deklarasi Juanda 13 Desember 1957 merupakan satu sikap penentangan terhadap Hukum Internasional Tradisional yang dibuat oleh sekelompok negara-negara di Eropa dan diikuti oleh negara-negara di benua Amerika.

Isi dari Deklarasi Juanda adalah: ‘Bahwa segala perairan di sekitar, diantara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau termasuk daratan Republik Indonesia dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayah daratan Negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan nasional yang berada dibawah kedaulatan mutlak daripada Negara Republik Indonesia. Lalu lintas yang damai di perairan pedalaman ini bagi kapal asing terjamin selama dan tidak bertentangan dengan kedaulatan dan keselamatan Negara Indonesia. Penentuan batas laut teritorial yang lebarnya 12 mil yang diukur dari garis-garis yang menghubungkan titik-titikterluar pada pulau Negara Republik Indonesia akan ditentukan dengan Undang-Undang’.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perairan yang berada ditengah dan diantara pulau-pulau berubah statusnya menjadi perairan pedalaman yang status yuridisnya sama dengan wilayah tanah, dimana negara berdaulat penuh.

Pengakuan terhadap Deklarasi Juanda tidak bisa terjadi dengan begitu saja. Butuh waktu untuk bisa mendapatkan pengakuan dari negara regional dan internasional. Untuk itu perlu dibuat suatu dukungan yuridis oleh negara kita berupa Undang-undang No. 4/Prp tahun 1960 tentang Perairan Wilayah Indonesia. Klaim perairan ini diikuti dengan Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1962 tentang Hal Lalu Lintas Damai Kendaraan Asing. Berdasarkan UU No. 4/Prp/1960 dan memperhatikan Konsep Wawasan Nusantaras dan dalam rangka menghormati hak negara tetangga terhadap kekayaan laut tetapi sebelum ditemukannya deposit minyak bumi maka dibuatlah perjanjian Batas Landas Kontinen dan Garis Batas Laut Wilayah dengan negara tetangga antara lain Malaysia, Thailand, Australia, Singapura, Papua Nugini dan India.

Deklarasi Juanda sampai dengan hari ini belum tergantikan dengan deklarasi yang lain atau undang-undang yang lain dengan pengakuan internasional. Itu berarti konsekuensi terhadap penerapannya masih harus dilakukan oleh Negara Indonesia misalnya dengan melakukan patroli dan pertahanan sipil dan militer pada batas wilayah. Jika negara Malaysia melanggar peraturan dan perjanjian landas kontinen yang sudah disepakati, mungkin karena melihat berbagai kelemahan yang dimiliki bangsa kita dan mulai menjadi budaya bangsa. Atau mungkin saja karena ditemukan berbagai kekayaan alam, deposit minyak bumi, dan atau mereka paham bahwa pertahanan di Ambalat sangat lemah karena peralatan militer yang dimiliki sudah sangat terbatas dan terlalu tua. Juga pertahanan manusianya mungkin saja melemah.

Nah, ini sebetulnya PR ‘para bintang’ yang harus bisa dikonsepkan dengan baik dan benar. Penetapan dengan menggunakan hukum militer mungkin perlu juga dipikirkan. Sudah terlalu banyak penghinaan yang dilakukan oleh rakyat Malaysia terhadap bangsa Indonsia. Kita bangsa Indonesia terlalu rendah dimata rakyat Malaysia. Kita boleh sekali-sekali marah kan? Tapi kalau toh tidak dilakukan dengan marah besar, yah, lakukan diplomasi yang bersifat keras. Kalau tidak, berarti para petinggi negara RI kalah satu atau beberapa langkah dari tim Manohara yang berani berteriak lantang untuk ‘berperang’  melawan kebathilan yang terjadi pada dirinya dan yang dilakukan oleh putra Kelantan, Malaysia. Kenapa ragu? Cepat lebih baik. Untuk Indonesia Raya!

Salam,

Handari

Perang Bintang Sudah Dimulai

Posted in Sebuah Renungan dengan kaitan (tags) , , , on Juni 8, 2009 by Handari Yektiwi Alchosih

Sengaja saya menulis tentang 3 pasangan bintang yang sedang ‘berperang’ dingin dan panas, frontal dan gerilya, tapi yang jelas gelar perangnya sama-sama luasnya. Ini perlu dicatat besar-besaran atau cukup dicatat dalam diary pribadi saja. Kenapa? Yah, karena amat sangat menarik untuk diperbincangkan di warung kopi, cafe, di bus atau taksi, kereta api, kapal laut atau kapal udara. Pokoknya menarik!

Saya ingin menyampaikan apa yang saya dengar, saya lihat dan saya diskusikan  dengan beberapa orang yang saya temui tentang tokoh2 terbaik negara kita ini. Kenapa tokoh terbaik? Yah, karena Allah memberi jalan kepada beliau2 itu kepada beliau2 itu untuk menjadi calon pemimpin negara. Tanpa kehendakNya semua tidak akan terjadi. Begitu kan?

Catatan2 ini terjadi ketika saya sedang bepergian ke suatu tempat dan terpaksa memanfaatkan semua alat transportasi kecuali kapal laut. Saya juga senang ‘kongkow2 dengan teman2 anak saya yang kuliah di Fakultas Hukum. Disitulah semua diskusi terjadi dan saya menganggap tentu akan menarik jika suatu saat nanti catatan2 ini saya baca ulang. Begitulah.

Obrolan dengan sopir taksi, minggu pagi. Saya mendapat todongan pertanyaan tentang siapa capres cawapres yang menjadi pilihan saya. Jawaban saya masih belum karena buat saya siapa pilihan saya nantinya akan menjadi rahasia antara saya dengan jari tangan dan alat contreng. Sampai kapanpun. Tapi ada catatan khusus yang merupakan lintasan pikiran saya sesaat pada saat itu. Menurut saya, ketiga pasangan ini jika mekanisme pemilihan bisa dijaga kejujurannya, apapun hasilnya akan bisa menunjukkan atau menggambarkan komposisi masyarakat kita. SBY- Boediono pasti akan didukung oleh kelompok profesional dan birokrat dan sebagian Angkatan. JK-Wiranto akan mendapat dukungan dari kelompok masyarakat pengusaha, etnis, suku di luar Jawa dan sebagian Angkatan karena ikutan dari Wiranto. Mega-Prabowo, lebih banyak mendapat dukungan dari wong cilik, pedagang cilik dan besar, pengusaha, marhaen militan dan sebagian Angkatan yang masih mengagumi Prabowo. Meski Angkatan diminta netral bukan berarti mereka bisa dikungkung untuk tidak berbicara dalam kelompoknya atau keluarganya yang memiliki hak pilih. Jadi singkatnya, akan terjadi gambaran tentang, seberapa besar masyarakat miskin tidak berdaya, miskin tetapi mandiri, pengusaha, masyarakat pandai dan kelompok birokrat. Tetapi gambaran ini tidak bisa terurai menjadi seperti apa yang saya tulis diatas. Gambaran besarnya akan menggambarkan masyarakat miskin tetapi merupakan ‘marhaen-marhaen’, masyarakat pengusaha dan masyarakat profesional birokrat. Itu yang terlintas dalam pemikiran saya.

Ada juga catatan khusus tentang penjelasan pak Prabowo tentang pengertian kapitalisme. Kritikan beliau tentang ketidakmengertian tentang apa yang dimaksud dengan kapitalisme. Menurut beliau, petani2 kita sebetulnya juga menganut paham kapitalisme dalam bekerja. ‘Mereka punya lahan sawah sendiri meski kecil, punya sapi meski cuma satu, punya cangkul dan mengusahakan bibit padi sendiri meski alam jumlah yang kecil. Itu apa artinya? Artinya mereka punya kapital dan berpikirnya secara kapitalisme….’. Itulah penjelasan pak Prabowo.

Dalam satu wawancara televisi Ibu Mega dengan suara tertekan tapi terkadang muncul suara sinisnya beliau menjelaskan tentang ‘posisi’ terjepitnya beliau ketika menjadi ‘Presiden’ lanjutan setelah Gus Dur diminta untuk turun jabatan dari kursi kepresidenan. Ini tentang IMF, keputusan Ibu Mega pada saat itu adalah berhenti berhutang dan mulai ‘nyicil’ hutang. Beliau dengan suara tertekan memberikan pernyataan bahwa waktu yang diberikan kepada beliau terlalu pendek jadi semuanya serba tanggung artinya semua belum selesai tuntas.

Catatan dari saya sebelum tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 1.25 pagi. Kenapa semua pemimpin kita sangat suka mengobrak abrik kerja pendahulunya. Kenapa tidak melanjutkan saja semua yang sudah dimulai sampai pada tahap evaluasi untuk menetapkan apakah suatu program perlu diberhentikan atau dilanjutkan dengan suatu perbaikan. Bukankah, semua program yang dikerjakan sudah melalui tahapan kajian yang panjang juga tidak lolos dari kajian rakyat yaitu melalui persetujuan DPR. Dan, satu lagi, saya kaget ketika mendengar diskusi Pak Habibi mantan Presiden kita haluan negara. Ternyata, negara kita yang sangat luas ini tidak memiliki Garis Besar Haluan Negara. Loh, kok bisa bekerja? Yah, bisa sih… Huahemmmm…ngantuk!

Renungan Dari Tanah Suci

Posted in Sebuah Renungan on Januari 13, 2009 by Handari Yektiwi Alchosih

Jangan Menangis, Engkau Laki-Laki

Saya tertarik untuk mengutip salah satu artikel dalam buletin Qiblati yang menurut saya penting untuk dijadikan suatu bahan pendidikan kejiwaan bagi anak-anak kita terutama anak laki-laki kita. Artikel ini ditulis oleh Sdr. Iman Zubair dan akan saya kutip persis sebagaimana beliau menuliskannya dalam buletin Qiblati. Bismilllahirrochmanirrohim…

Sudah menjadi kebiasaan ketika salah seorangputra kita menangis, banyak para bapak dan ibu yang mengulang-ulang ungkapan: ‘Jangan menangis, engkau ini laki-laki’, tanpa mengetahui pengaruh psikologis dan biologis akibat dari perkara ini. Pendidikan terhadap anak laki-laki diusahakan menghalanginya dari menangis, dan bahwa menangis itu hanya untuk kaum wanita, karena menangis dianggap lemah, dan tidak pantas bagi kaum laki-laki.

Sesungguhnya mengungkapkan reaksi dengan airmata menyediakan sebuah kesempatan bagi seorang manusia untuk menghilangkan perasaan yang meluap-luap dari dalam. Menahannya kadang berpengaruh terhadap sisi kejiwaan yang besar dan membahayakan. Seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan, adalah makhluk hidup yang dipenuhi dengan perasaan yang mengandung kegembiraan dan kesedihan, kesusahan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, orang tua wajib mengizinkan anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan untuk mengungkapkan perasaannya dengan menangis saat dibutuhkan pada satu waktu tertentu. Jika tidak, maka mereka akan mengkhususkan tangisan itu hanya untuk wanita hingga mereka menjadi lemah dan menarik rasa iba orang melalui tangisannya. Dan telah dibuktikan secara ilmiah bahwa menagis akan membebaskan tubuh dari muatan negatif dalam dirinya. Jika tertahan bisa jadi kelak akan berwujud menjadi perbuatan kekerasan atau gangguan jiwa.

Oleh karena itu, majalah Qiblati memberikan peringatan kepada para orang tua dari ucapan:‘Jangan menangis anakku, engkau adalah laki-laki’. Tetapi yang benar adalah, ‘Jangan terus menangis, kendalikan tangisanmu. Menangis terus tidak menyelesaikan masalah’. (AR).

Saya tidak perlu memberikan komentar yang panjang, saya hanya ingin mengatakan bahwa ada kemungkinan banyak kejadian kekerasan yang kita lihat di media elektronik dan kita baca di media cetak, berawal dari sikap orang tua yang salah. Dan, ada kemungkinan ‘kecengengan’ yang ditunjukkan oleh para pimpinan kita juga berawal dari sikap yang salah tersebut dari orang tua di masa lalu, masa kanak-kanak. Walahualam…

Handari,

masmirah331@yahoo.com; www.handari.wordpress.com

 

Renungan Dari Tanah Suci

Posted in Sebuah Renungan on Januari 13, 2009 by Handari Yektiwi Alchosih

Ketika menunggu sholat Ashar tiba di Masjid Nabawi, saya teringat sebuah pertanyaan yang muncul dari dalam hati. Mengapa perempuan muslimah tidak diharapkan menjadi pemimpin suatu kaum? Yach, kenapa? Selama ini jawaban yang saya peroleh dari hasil debat kusir cukup banyak dan cukup lumayan untuk membuat hati saya terpuaskan. Tetapi jawaban yang berdasarkan suatu ilmu yang hakiki dan contoh-contoh nyata dari Baginda Rasul masih belum saya dapatkan. Mungkin karena saya belum menemukan guru yang tepat, informasi yang benar, buku sebagai referensi yang akurat dan yang pasti saya belum serius mencari referensi pendukung.

Ketika pertanyaan hati tentang perempuan muslimah sebagai pemimpin kaum belum terjawab tuntas, muncul lagi sebuah pertanyaan perempuan muslimah berpolitik. Waduh, ini lagi….pasti jawabannya akan lebih rumit. Adakah keluarga Baginda Rasul yang ‘terjun’ ke politik? Saya belum menemukan referensi sebagai informasi pendukung tentang perempuan muslimah berpolitik. Tetapi saya sudah bisa membuat catatan khusus beda tentang memimpin kaum dan berpolitik. Dan jujur saya lebih setuju perempuan muslimah terjun ke dunia politik daripada perempuan muslimah berpikir untuk memimpin suatu kaum. Kenapa? Saya belum menemukan jawaban tetapi saya berjanji akan menuliskan jawaban tentang alasan2 saya di blog ini setiap saya menemukan jawaban yang didukung dengan referensi orang maupun buku. Begitu ya…

Salam,

Handari

masmirah331@yahoo.com ; www.handari.wordpress.com

Handari’s Weblog › Perkakas — WordPress

Posted in Poliik dan Hukum, Politik dan Hukum, Sebuah Renungan, Uncategorized on Januari 10, 2009 by Handari Yektiwi Alchosih

Renungan Dari Tanah Suci

Posted in Sebuah Renungan on Januari 10, 2009 by Handari Yektiwi Alchosih

Sesuai janji saya untuk menulis hal-hal yang menjadi renungan dalam diri, maka hari ini saya tuliskan sebuah kutipan tentang Perbedaan antara Si Sukses dan Si Gagal. Kutipan ini berasal dari tabloid Qiblati yang diberikan secara cuma-cuma pada saat saya masih berada di maktab Mekah Al Mukkarramah.

Pada Rubrik Cahaya Hati saya membaca tulisan tentang Perbedaan Antara Si Sukses dan Si Gagal oleh Sdr. Iman Zuhair. Mengapa saya mengutip tulisan beliau? Karena ketika membaca dengan seksama tulisan beliau, saya merasa termotivasi untuk melakukan saran yang tersirat dari Si Sukses. Mudah2an rekan-rekan yang kebetulan mampir ke blog saya ini juga termotivasi seperti saya.

Perbedaan antara Si Sukses dan Si Gagal

Oleh Iman Zuhair

Sesungguhnya di kehidupan ini banyak terdapat orang yang berhasil, begitu pula orang-orang yang gagal. Maka tentunya terdapat banyak perbedaan antara yang berhasil denan yang gagal. Dan diantara perbedaan yang paling mendasar adalah:

  • Orang yang berhasil adalah mereka yang berfikir dalam memecahkan masalah, adapun orang yang gagal adalah yang berfikir di dalam masalah.
  • Orang yang berhasil tidak akan habis pola pikirnya, sedang orang yang gagal tidak akan pernah habis udzurnya.
  • Orang yang berhasi akan membantu orang lain, sedang orang yang gagal adalah orang yang masih diprediksi ada bantua dari mereka.
  • Orang yang berhasil melihat sebuah jalan keluar dalam setiap masalah, sedang orang yang gagal melihat masalah dalam setiap jalan keluar.
  • Orang yang berhasil berkata, jalan keluar itu sulit, tapi mungkin dilakukan, sedang orang yang gagal mengatakan, jalan keluar mungkin dilakukan tapi sulit.
  • Orang yang berhasil memiliki cita-cita yang akan diwujudkannya, sedangkan orang yang gagal memiliki angan-angan serta mimpi yang mengacaukannya.
  • Orang yang berhasil mengatakan, pergaulilah manusia dengan pergaulan yang kamu suka diperlakukan dengannya, sedang yang gagal berkata tipulah manusia sebelum mereka menipumu.
  • Orang yang berhasil melihat adanya cita-cita dalam bekerja, sedang yang gagal melihat rasa sakit di dalamnya.
  • Orang yang berhasil melihat ke masa yang akan datang, dan merencanakan langkah-langkah yang mungkin dilakukan, sedang yang gagal melihat ke masa lalu dan merencanakan langkah-langkah yang mustahil dilakukan.
  • Orang yang berhasil memilih apa yang dia katakan, sedang yang gagal mengatakan apa yang dia pilih.
  • Orang yang berhasil berdebat dengan kemampuan dan gaya bahasa yang lembut, sedang yang gagal berdebat dengan kelemahan serta gaya bahasa yang kasar.
  • Orang yang berhasil berpegang dengan yang bernilai dan meninggalkan perkara yang kecil, sedang yang gagal bergantung kepada perkara kecil dan meninggalkan perkara yang bernilai.
  • Orang yang berhasil membuat peristiwa, sedang yang gagal dibentuk oleh peristiwa.

Kalimat bijak diatas, terkadang begitu mudah kita cerna, tetapi terkadang terlalu sulit untuk dimengerti. Kiat untuk bisa memahami, saya menyarankan untuk membacanya ketika dalam suasana hening. Selamat mencoba. Dan tak lupa terima kasih kepada Qiblati, Redaksi dan jajarannya, juga para karyawan yang dengan keikhlasannya menyebarluaskan tabloid yang manfaat ini. Bagi yang berminat untuk berlangganan silahkan menghubungi alamat e-mail redaksi: redaksi@qiblati.com; pemasaran@qiblati.com atau call centre +62 8585 504 1000.

10 Januari 2009, Handari