2. Plato
Ajaran Sokrates diteruskan oleh salah seorang muridnya bernama Plato, yang pernah menjadi Maha Guru Academici di kota Athena. Beliau menulis buku mengenai tata negara yaitu ‘Politea’ (Negara), ‘Politikon (ahli politik) dan ‘Nomae’ (Undang-Undang) yang menggambarkan intisari pandangan idealistis.
Kebobrokan masyarakat Yunani tidak dapat dicegah lagi. ‘Anarchie’ dan korupsi merajalela dan mereka mengagungkan kemewahan keduniawian, sehingga Negara Yunani akhirnya merupakan pandangan yang kurang menyedapkan.
Plato yang hidup ditengah-tengah lumpur itu, merasa tak berdaya lagi untuk membersihkan masyarakat, dan lebih suka melarikan diri kearah fikiran yang melayang diatas dunia yang serba kabut itu, supaya jangan terkena oleh kekotoran masyarakat dan dapat tinggal menghirup hawa yang segar bagi jiwanya.
Filsafat Plato, karenanya merupakan puncak aliran idealisme yang semurninya.
Semua barang serba gumelar yang ada didunia, juga negara, bukan kenyataan yang sebenarnya, tetapi mereka hanya merupakan wewayangan atau bayangan belaka dari kenyataan yang sejati.
Dengan panca indera, yaitu mata, rasa diri kita tidak dapat melihat dan menyatakan kenyataan yang sejati itu, tetapi hanya wewujudnya yang palsu belaka. Kuda, rumah, negara, dsbnya itu hanya kuda, rumah dan negara yang palsu. Wewujudnya yang tulen, kenyataan yang sebenarnya, tak dapat kita saksikan, sebab mereka tak berada di dunia fana, tetapi didunia lain.
Kenyataan sejati itu dinamakan ‘idea’, yang bersemayam di alam tersendiri, alam ‘idea’ yang berada diluar dunia palsu ini. Disamping dunia fana yang palsu ini ada lagi alam yang lebih indah, lebih tulen, yaitu tempatnya semua barang dalam wewujudannya yang murni, yaitu alam semangat idea.
Manusia dapat mengenai semua barang sekitarnya itu sebagai kuda, rumah, Negara, dsb, karena ia pernah berada di dunia idea dengan kemanusiaannya sejati dan karena itu teringat pada wewangunan dalam alam yang dahulu sebelum ia dilahirkan telah pernah menginjaknya.
Manusia sudah terlalu lama bergelimpangan dalam lumpur dunia palsu ini, sehingga ia sulit menggambarkan keadaan yang sebenarnya atau idea itu. Manusia terkekang pada dunia fana yang serba palsu itu ibarat seorang yang selama hidup berada dalam sebuah gua gelap, terikat sedemikian rupa, sehingga ia tak dapat bergerak dan menengok kanan kiri sedikitpun, yaitu selamanya dipaksa menghadapi tembok gua itu. Jika diluar gua itu ada obor dan ada barang sejati yang melewati sinar obor itu, maka bayangannya akan jatuh pada dinding gua itu. Bayangan itulah yang dilihat manusia dalam dunia fana ini dan karena ia tak mengetahui sebenarnya, maka itulah yang dikira kenyataan. Sang Surya adalah obor dunia yang membayangkan kenyataan sejati dari dunia idea.
Karena manusia yang terbelenggu dan begitu picik pandangan itu, pada pertamakali akan ulap atau kabur matanya, setengah terperanjat, jika ia dengan kurang persediaan sekonyong-konyong sesudah wafat lalu terjun kealam langgeng, yaitu alam idea abadi abadi itu dan mungkin dia lalu teringat akan kenikmatan palsu yang dahulu ia kenyam di dunia ramai itu, tetapi akhirnya ia akan tahu tempatnya pula dan tak ingin kembali ke dunia yang serba palsu itu.
Dengan bersamadi orang hidup dapat mengenyam dan mengenal kenikmatan sejati itu dengan sukmanya. Karena itu, maka seyogyanya Negara itu harus diperintah oleh Dewan Ahli Filsafat, sedang ahli filsafat itu sebaiknya ikut serta dalam pemerintahan.
Ahli Pemerintahan, seorang Satria itu harus bersifat gemar akan semedi, harus ‘pinandita’. Begitulah ajaran Sang Krisna pada Arjuna yang mirip dengan ajaran Plato.
Negara itu timbul disebabkan manusia itu berbeda-beda kebutuhan dan keinginannya dan diperlukan adanya kekuasaan umum untuk mengkoordinir semuanya. Negara ialah ibarat manusia yang bertabiat suka berpikir berani dan rajin, disiplin sehingga dalam Negara itu juga terdapat lapisan para pembesar Negara, prajurit dan pekerja.
Dewan pembesar Negara yang pinandita ialah lapisan Aritokrasi jiwa, yang harus memerintah pemuda dan rakyat.
Tujuan pemerintahan Negara ialah mendidik Wangsa Manusia yang tinggi nilainya yang mendekati kemanusiaan sejati. Pemerintah harus didasarkan Ethica, moral yang tinggi.
Kecerdasan, rasa keadilan kesenian, keberanian, kerajinan dan tepa selira harus dianjurkan. Hawa nafsu, kemewahan dan keliaran yang rusuh harus dicegah terutama dikalangan pemudanya.
Bagaimana Negara itu dapat berubah?
Makin tipis rasa keadilan sejati itu meresap di sanubari para pembesar negara, makin goncanglah keadaan Negaranya, sehingga Negara itu dapat berubah sifat karenanya.
Jika para Aristokrasi yang berpinandita itu mulai terpengaruh oleh keinginan akan kemashuran nama dan pangkat, maka ‘Aristokrasi’ berubah menjadi Negara ‘Timokrasi’. Jika pembesar Negara dapat dipengaruhi oleh kemewahan dan gampang diperkudakan oleh si Raja, maka timbullah ‘oligarchie’ yang menyedot milik rakyat dan mengakibatkan kemiskinan, sehingga rakyat berontak dan lalu mendirikan Negara Demokrasi. Demokrasi dapat lenyap karena kekurangan tata tertib, sehingga muncul ‘anarchie’ dalam negara yang menggampangkan berdirinya ‘Monarchie’ yang ‘dictatorial’ dan ini berputar lagi ke Aristokrasi dan begitulah keadaan perubahan itu merupakan siklus Negara. Perubahan yang terjadi pada Negara disebabkan oleh perubahan batin yaitu menipisnya anasir idealistis. Plato ialah seorang idealis tulen.
Supaya para pembesar dapat selalu ringan jiwanya dan tak terpukau
oleh keduniawian maka seyogyanya mereka dilarang mempunyai milik dan berkeluarga. Laki perempuan supaya bergaul bebas sama-sama haknya dengan tak usah diadakan perkawinan. Semua anak harus dipisahkan dari orang tuanya dan dididik dalam Asrama Negara menjadi ‘patriot yang cerdas’, sederhana berani dan adil.
Filasafat kenegaraan Plato itu penuh berisi anasir-anasir yang akan diambil sari-sarinya oleh beberapa sarjana Tatanegara seperti Ibnu Chuldun, Thomas Morus, Grotius dll. sarjana Tatanegara, karena meskipun bersifat ‘idealistis’ dan ‘utopis’, filsafat Plato itu mengandung rencana-rencana yang bernilai tinggi sehingga dibeberapa Universiteit ajaran Plato itu mendapat tempat yang penting hingga kini.
Begitu pula dengan ajaran murid Plato yaitu sarjana yang terbesar di Yunani kuno yang bernama Aristoteles.
(Diambil dari Sari Pandangan Sarjana2 Tatanegara Seluruh Dunia dari Socrates hingga Ir. Soekarno, yang ditulis oleh Mr. Soenarko, Penerbit NV. “Hidup” Jakarta, 11 Oktober 1951, dengan perubahan beberapa kalimat tanpa mengubah arti).