Keputusan Untuk Terjun Ke Politik
Akhirnya aku berani menetapkan diri untuk terjun ke politik. Bidang politik sebetulnya bukan sesuatu yang asing karena sejak kecil sejak duduk di bangku Sekolah Dasar Ibu dan Bapak saya sudah berkiprah sebagai aktivis partai yang pada saat itu sangat diperhitungkan. Ibu bahkan duduk sebagai Ketua DPD. Pemahaman beliau berdua ditambah buku2 tentang politik dari penulis terkenal atau buah pikiran orang terkenal sudah menjadi buku bacaan sampingan kalau diktat atau panduan dari sekolah sudah terbaca habis. Komik tidak banyak beredar sedangkan hobi membaca saya sulit dikendalikan. Efeknya, perpustakaan Ibu dan Bapak menjadi jarahan saya saat tidak ada lagi bahan bacaan yang bisa menemani saya sebelum berangkat tidur.
Keputusan terjun ke politik ini lebih saya percayai sebagai campur tangan Tuhan. Sejak lama sudah, beberapa sesepuh partai yang menjadi kenalan baik Ibu dan Bapak memandang saya sebagai penerus garis politik Ibu atau Bapak. Kenapa saya menulisnya Ibu atau Bapak? Ya, sebab kedua beliau itu tidak duduk pada kepengurusan partai yang sama. Beliau berada pada kubu partai yang berbeda bahkan pada era tertentu partai tersebut ‘berseberangan’ garis politik karena perbedaan kepentingan pemimpinnya. Kembali pada tulisan bahwa saya percaya keputusan untuk terjun ke politik ini adalah campur tangan Tuhan adalah karena tawaran untuk bergabung dan dengan dukungan yang serius ini terjadi setelah saya diberhentikan dari PNS oleh institusi saya karena ‘desersi’ yang saya lakukan. Saya amat sangat bersedih sekali karena pengabdian saya pada institusi negara ini sudah saya jalani sudah nyaris selama 30 tahun. Dan pengabdian yang saya lakukan bukan hanya sebagai pegawai saja tetapi saya lakukan dengan pengabdian seorang ksatria. Tidak ada kata tidak bisa ketika perintah datang, tidak pernah berhenti belajar supaya bisa menjadi pionir dan bisa menyelesaikan pekerjaan dengan nilai optimal tidak hanya selesai. Terus meningkatkan pengetahuan dengan tujuan bisa memotivasi teman setara untuk bersama-sama melakukan pembaharuan dan perbaikan kinerja. Tetapi rupanya itu saja tidak cukup. Masih banyak persyaratan yang harus saya penuhi supaya saya bisa dipertahankan untuk tetap menjadi PNS pada institusi negara tersebut. Ada terbersit perasaan marah karena diperlakukan tidak adil jika membandingkan diri dengan beberapa pegawai yang setiap harinya tidak pernah hadir fisik di institusi dan juga tidak pernah memberi penjelasan tentang ketidakhadiran ditambah lagi tidak pernah memberikan kontribusi dalam bentuk apapun, tetapi mereka tetap diakui sebagai pegawai. Rasa iri dan sedih itu muncul karena ketidak adilan perlakuan yang diberikan atasan kepada saya pada awalnya. Tetapi setelah selang dua tahun saya merenung untuk menilai kekurangan diri dan menggali potensi diri, datanglah tawaran bergabung dari beberapa institusi atau komunitas yang mengenal saya melalui tulisan atau komentar yang saya buat dibeberapa milist tempat saya bergabung. Salah satu dari komunitas itu adalah orang-orang yang sengaja berkunjung ke milist untuk menilai ‘diri pribadi’ partai tempat dia bergabung.
Akhirnya aku percaya bahwa Tuhan menjawab keinginan saya sejak kecil untuk mengikuti jejak Ibu dan Bapak untuk terjun ke politik. Partai tempat saya bisa ‘menjual’ aspirasi adalah Partai Karya Peduli Bangsa dibawah pimpinan Bapak R. Hartono. Saya tidak memilih tetapi kesempatan itu datang menghampiri.
Saat ini saya sedang menunggu apa yang selanjutnya harus saya lakukan. Saya sedang menunggu jalan mana yang terbuka untuk sampai ke Senayan sebagai wakil rakyat. Saya sedang menunggu teman terbaik yang dikirim Tuhan untuk menuntun saya untuk sampai ke Senayan sebagai wakil rakyat. Saya sedang menunggu dengan hati yang pasrah.
30 Agustus 2008
Oktober 1, 2008 pada 7:12 am
Thank u for your good comment. I know you, you have a potential and a good personality. That is life. It was different when we are still in government department and after quicking from it. I have many problems too with my blog. But I dont care it. They dont want comment to my blog but only to my boss. I just say please contact me directly like you, but they didnt dare to me. They can’t do what I can do! That is different between me and them!
He..he…I support you friend to find your destination in politics. but be careful, politics is cruel! You must be smart in playing political role!
Ok, see you later
sincerily
Oktober 10, 2008 pada 4:57 am
Dear friend Husin,
Thank you, thank you, thank you…for your spirit and your support. Birocracy still to be birocracy, ’till now. But one thing we must to do, look and say the truth, always, in every time, every chance we have. Look, you already do (in your blog).
Say it, the truth!
Sincerely,
Handari
Oktober 14, 2008 pada 3:43 am
Salam, Mbak Handari.
Semoga lancar pesat melaju ke senayan.
Semoga bisa menghadirkan ‘warna lain’, ‘warna baru’, warna yang lebih indah di kancah perpolitikan Indonesia.
Semoga bisa menjadi wakil rakyat yang sejati-sejatinya wakil rakyat;
yang mau dan mampu mendengar suara rakyat,
yang berani menyampaikan aspirasi rakyat,
yang selalu berupaya kesejukan di negeri tercinta ini; dengan solusi dan dengan teladan yang indah.
yang menggenggam jabatan sebagai amanah suci dari Tuhan untuk mewujudkan peradaban yang indah,
Semoga bisa bertahan dari berbagai godaan dan goncangan,
terhindar dari godaan untuk ‘mewakili kesejahteraan rakyat’,
terhindar dari ketakutan untuk munyuarakan nurani….
Semoga Tuhan selalu menyertai;
di hati, pikir dan laku…….
Salam.
Oktober 15, 2008 pada 12:44 am
Dear Nurel,
Pesan yang kau tulis adalah do’a tulus untuk mbak. Semoga Allah SWT mendengar dan mengabulkan do’a tulus Nurel. Sukses buat Nurel dan semua perempuan Indonesia!