Perang Bintang Sudah Dimulai

Posted in Sebuah Renungan dengan kaitan (tags) , , , on Juni 8, 2009 by Handari Yektiwi Alchosih

Sengaja saya menulis tentang 3 pasangan bintang yang sedang ‘berperang’ dingin dan panas, frontal dan gerilya, tapi yang jelas gelar perangnya sama-sama luasnya. Ini perlu dicatat besar-besaran atau cukup dicatat dalam diary pribadi saja. Kenapa? Yah, karena amat sangat menarik untuk diperbincangkan di warung kopi, cafe, di bus atau taksi, kereta api, kapal laut atau kapal udara. Pokoknya menarik!

Saya ingin menyampaikan apa yang saya dengar, saya lihat dan saya diskusikan  dengan beberapa orang yang saya temui tentang tokoh2 terbaik negara kita ini. Kenapa tokoh terbaik? Yah, karena Allah memberi jalan kepada beliau2 itu kepada beliau2 itu untuk menjadi calon pemimpin negara. Tanpa kehendakNya semua tidak akan terjadi. Begitu kan?

Catatan2 ini terjadi ketika saya sedang bepergian ke suatu tempat dan terpaksa memanfaatkan semua alat transportasi kecuali kapal laut. Saya juga senang ‘kongkow2 dengan teman2 anak saya yang kuliah di Fakultas Hukum. Disitulah semua diskusi terjadi dan saya menganggap tentu akan menarik jika suatu saat nanti catatan2 ini saya baca ulang. Begitulah.

Obrolan dengan sopir taksi, minggu pagi. Saya mendapat todongan pertanyaan tentang siapa capres cawapres yang menjadi pilihan saya. Jawaban saya masih belum karena buat saya siapa pilihan saya nantinya akan menjadi rahasia antara saya dengan jari tangan dan alat contreng. Sampai kapanpun. Tapi ada catatan khusus yang merupakan lintasan pikiran saya sesaat pada saat itu. Menurut saya, ketiga pasangan ini jika mekanisme pemilihan bisa dijaga kejujurannya, apapun hasilnya akan bisa menunjukkan atau menggambarkan komposisi masyarakat kita. SBY- Boediono pasti akan didukung oleh kelompok profesional dan birokrat dan sebagian Angkatan. JK-Wiranto akan mendapat dukungan dari kelompok masyarakat pengusaha, etnis, suku di luar Jawa dan sebagian Angkatan karena ikutan dari Wiranto. Mega-Prabowo, lebih banyak mendapat dukungan dari wong cilik, pedagang cilik dan besar, pengusaha, marhaen militan dan sebagian Angkatan yang masih mengagumi Prabowo. Meski Angkatan diminta netral bukan berarti mereka bisa dikungkung untuk tidak berbicara dalam kelompoknya atau keluarganya yang memiliki hak pilih. Jadi singkatnya, akan terjadi gambaran tentang, seberapa besar masyarakat miskin tidak berdaya, miskin tetapi mandiri, pengusaha, masyarakat pandai dan kelompok birokrat. Tetapi gambaran ini tidak bisa terurai menjadi seperti apa yang saya tulis diatas. Gambaran besarnya akan menggambarkan masyarakat miskin tetapi merupakan ‘marhaen-marhaen’, masyarakat pengusaha dan masyarakat profesional birokrat. Itu yang terlintas dalam pemikiran saya.

Ada juga catatan khusus tentang penjelasan pak Prabowo tentang pengertian kapitalisme. Kritikan beliau tentang ketidakmengertian tentang apa yang dimaksud dengan kapitalisme. Menurut beliau, petani2 kita sebetulnya juga menganut paham kapitalisme dalam bekerja. ‘Mereka punya lahan sawah sendiri meski kecil, punya sapi meski cuma satu, punya cangkul dan mengusahakan bibit padi sendiri meski alam jumlah yang kecil. Itu apa artinya? Artinya mereka punya kapital dan berpikirnya secara kapitalisme….’. Itulah penjelasan pak Prabowo.

Dalam satu wawancara televisi Ibu Mega dengan suara tertekan tapi terkadang muncul suara sinisnya beliau menjelaskan tentang ‘posisi’ terjepitnya beliau ketika menjadi ‘Presiden’ lanjutan setelah Gus Dur diminta untuk turun jabatan dari kursi kepresidenan. Ini tentang IMF, keputusan Ibu Mega pada saat itu adalah berhenti berhutang dan mulai ‘nyicil’ hutang. Beliau dengan suara tertekan memberikan pernyataan bahwa waktu yang diberikan kepada beliau terlalu pendek jadi semuanya serba tanggung artinya semua belum selesai tuntas.

Catatan dari saya sebelum tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 1.25 pagi. Kenapa semua pemimpin kita sangat suka mengobrak abrik kerja pendahulunya. Kenapa tidak melanjutkan saja semua yang sudah dimulai sampai pada tahap evaluasi untuk menetapkan apakah suatu program perlu diberhentikan atau dilanjutkan dengan suatu perbaikan. Bukankah, semua program yang dikerjakan sudah melalui tahapan kajian yang panjang juga tidak lolos dari kajian rakyat yaitu melalui persetujuan DPR. Dan, satu lagi, saya kaget ketika mendengar diskusi Pak Habibi mantan Presiden kita haluan negara. Ternyata, negara kita yang sangat luas ini tidak memiliki Garis Besar Haluan Negara. Loh, kok bisa bekerja? Yah, bisa sih… Huahemmmm…ngantuk!

Renungan Dari Tanah Suci

Posted in Sebuah Renungan on Januari 13, 2009 by Handari Yektiwi Alchosih

Jangan Menangis, Engkau Laki-Laki

Saya tertarik untuk mengutip salah satu artikel dalam buletin Qiblati yang menurut saya penting untuk dijadikan suatu bahan pendidikan kejiwaan bagi anak-anak kita terutama anak laki-laki kita. Artikel ini ditulis oleh Sdr. Iman Zubair dan akan saya kutip persis sebagaimana beliau menuliskannya dalam buletin Qiblati. Bismilllahirrochmanirrohim…

Sudah menjadi kebiasaan ketika salah seorangputra kita menangis, banyak para bapak dan ibu yang mengulang-ulang ungkapan: ‘Jangan menangis, engkau ini laki-laki’, tanpa mengetahui pengaruh psikologis dan biologis akibat dari perkara ini. Pendidikan terhadap anak laki-laki diusahakan menghalanginya dari menangis, dan bahwa menangis itu hanya untuk kaum wanita, karena menangis dianggap lemah, dan tidak pantas bagi kaum laki-laki.

Sesungguhnya mengungkapkan reaksi dengan airmata menyediakan sebuah kesempatan bagi seorang manusia untuk menghilangkan perasaan yang meluap-luap dari dalam. Menahannya kadang berpengaruh terhadap sisi kejiwaan yang besar dan membahayakan. Seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan, adalah makhluk hidup yang dipenuhi dengan perasaan yang mengandung kegembiraan dan kesedihan, kesusahan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, orang tua wajib mengizinkan anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan untuk mengungkapkan perasaannya dengan menangis saat dibutuhkan pada satu waktu tertentu. Jika tidak, maka mereka akan mengkhususkan tangisan itu hanya untuk wanita hingga mereka menjadi lemah dan menarik rasa iba orang melalui tangisannya. Dan telah dibuktikan secara ilmiah bahwa menagis akan membebaskan tubuh dari muatan negatif dalam dirinya. Jika tertahan bisa jadi kelak akan berwujud menjadi perbuatan kekerasan atau gangguan jiwa.

Oleh karena itu, majalah Qiblati memberikan peringatan kepada para orang tua dari ucapan:‘Jangan menangis anakku, engkau adalah laki-laki’. Tetapi yang benar adalah, ‘Jangan terus menangis, kendalikan tangisanmu. Menangis terus tidak menyelesaikan masalah’. (AR).

Saya tidak perlu memberikan komentar yang panjang, saya hanya ingin mengatakan bahwa ada kemungkinan banyak kejadian kekerasan yang kita lihat di media elektronik dan kita baca di media cetak, berawal dari sikap orang tua yang salah. Dan, ada kemungkinan ‘kecengengan’ yang ditunjukkan oleh para pimpinan kita juga berawal dari sikap yang salah tersebut dari orang tua di masa lalu, masa kanak-kanak. Walahualam…

Handari,

masmirah331@yahoo.com; www.handari.wordpress.com

 

Renungan Dari Tanah Suci

Posted in Sebuah Renungan on Januari 13, 2009 by Handari Yektiwi Alchosih

Ketika menunggu sholat Ashar tiba di Masjid Nabawi, saya teringat sebuah pertanyaan yang muncul dari dalam hati. Mengapa perempuan muslimah tidak diharapkan menjadi pemimpin suatu kaum? Yach, kenapa? Selama ini jawaban yang saya peroleh dari hasil debat kusir cukup banyak dan cukup lumayan untuk membuat hati saya terpuaskan. Tetapi jawaban yang berdasarkan suatu ilmu yang hakiki dan contoh-contoh nyata dari Baginda Rasul masih belum saya dapatkan. Mungkin karena saya belum menemukan guru yang tepat, informasi yang benar, buku sebagai referensi yang akurat dan yang pasti saya belum serius mencari referensi pendukung.

Ketika pertanyaan hati tentang perempuan muslimah sebagai pemimpin kaum belum terjawab tuntas, muncul lagi sebuah pertanyaan perempuan muslimah berpolitik. Waduh, ini lagi….pasti jawabannya akan lebih rumit. Adakah keluarga Baginda Rasul yang ‘terjun’ ke politik? Saya belum menemukan referensi sebagai informasi pendukung tentang perempuan muslimah berpolitik. Tetapi saya sudah bisa membuat catatan khusus beda tentang memimpin kaum dan berpolitik. Dan jujur saya lebih setuju perempuan muslimah terjun ke dunia politik daripada perempuan muslimah berpikir untuk memimpin suatu kaum. Kenapa? Saya belum menemukan jawaban tetapi saya berjanji akan menuliskan jawaban tentang alasan2 saya di blog ini setiap saya menemukan jawaban yang didukung dengan referensi orang maupun buku. Begitu ya…

Salam,

Handari

masmirah331@yahoo.com ; www.handari.wordpress.com

Handari’s Weblog › Perkakas — WordPress

Posted in Poliik dan Hukum, Politik dan Hukum, Sebuah Renungan, Uncategorized on Januari 10, 2009 by Handari Yektiwi Alchosih

Renungan Dari Tanah Suci

Posted in Sebuah Renungan on Januari 10, 2009 by Handari Yektiwi Alchosih

Sesuai janji saya untuk menulis hal-hal yang menjadi renungan dalam diri, maka hari ini saya tuliskan sebuah kutipan tentang Perbedaan antara Si Sukses dan Si Gagal. Kutipan ini berasal dari tabloid Qiblati yang diberikan secara cuma-cuma pada saat saya masih berada di maktab Mekah Al Mukkarramah.

Pada Rubrik Cahaya Hati saya membaca tulisan tentang Perbedaan Antara Si Sukses dan Si Gagal oleh Sdr. Iman Zuhair. Mengapa saya mengutip tulisan beliau? Karena ketika membaca dengan seksama tulisan beliau, saya merasa termotivasi untuk melakukan saran yang tersirat dari Si Sukses. Mudah2an rekan-rekan yang kebetulan mampir ke blog saya ini juga termotivasi seperti saya.

Perbedaan antara Si Sukses dan Si Gagal

Oleh Iman Zuhair

Sesungguhnya di kehidupan ini banyak terdapat orang yang berhasil, begitu pula orang-orang yang gagal. Maka tentunya terdapat banyak perbedaan antara yang berhasil denan yang gagal. Dan diantara perbedaan yang paling mendasar adalah:

  • Orang yang berhasil adalah mereka yang berfikir dalam memecahkan masalah, adapun orang yang gagal adalah yang berfikir di dalam masalah.
  • Orang yang berhasil tidak akan habis pola pikirnya, sedang orang yang gagal tidak akan pernah habis udzurnya.
  • Orang yang berhasi akan membantu orang lain, sedang orang yang gagal adalah orang yang masih diprediksi ada bantua dari mereka.
  • Orang yang berhasil melihat sebuah jalan keluar dalam setiap masalah, sedang orang yang gagal melihat masalah dalam setiap jalan keluar.
  • Orang yang berhasil berkata, jalan keluar itu sulit, tapi mungkin dilakukan, sedang orang yang gagal mengatakan, jalan keluar mungkin dilakukan tapi sulit.
  • Orang yang berhasil memiliki cita-cita yang akan diwujudkannya, sedangkan orang yang gagal memiliki angan-angan serta mimpi yang mengacaukannya.
  • Orang yang berhasil mengatakan, pergaulilah manusia dengan pergaulan yang kamu suka diperlakukan dengannya, sedang yang gagal berkata tipulah manusia sebelum mereka menipumu.
  • Orang yang berhasil melihat adanya cita-cita dalam bekerja, sedang yang gagal melihat rasa sakit di dalamnya.
  • Orang yang berhasil melihat ke masa yang akan datang, dan merencanakan langkah-langkah yang mungkin dilakukan, sedang yang gagal melihat ke masa lalu dan merencanakan langkah-langkah yang mustahil dilakukan.
  • Orang yang berhasil memilih apa yang dia katakan, sedang yang gagal mengatakan apa yang dia pilih.
  • Orang yang berhasil berdebat dengan kemampuan dan gaya bahasa yang lembut, sedang yang gagal berdebat dengan kelemahan serta gaya bahasa yang kasar.
  • Orang yang berhasil berpegang dengan yang bernilai dan meninggalkan perkara yang kecil, sedang yang gagal bergantung kepada perkara kecil dan meninggalkan perkara yang bernilai.
  • Orang yang berhasil membuat peristiwa, sedang yang gagal dibentuk oleh peristiwa.

Kalimat bijak diatas, terkadang begitu mudah kita cerna, tetapi terkadang terlalu sulit untuk dimengerti. Kiat untuk bisa memahami, saya menyarankan untuk membacanya ketika dalam suasana hening. Selamat mencoba. Dan tak lupa terima kasih kepada Qiblati, Redaksi dan jajarannya, juga para karyawan yang dengan keikhlasannya menyebarluaskan tabloid yang manfaat ini. Bagi yang berminat untuk berlangganan silahkan menghubungi alamat e-mail redaksi: redaksi@qiblati.com; pemasaran@qiblati.com atau call centre +62 8585 504 1000.

10 Januari 2009, Handari

Renungan Dari Tanah Suci

Posted in Uncategorized on Januari 9, 2009 by Handari Yektiwi Alchosih

Empat puluh hari berada di Tanah Suci untuk melaksanakan Rukun Islam ke 5 membawa banyak perenungan dalam diri. Sesuai dengan do’a sejak di kampung halaman, berharap Allah Azza Wa Jalla mengirimkan ‘guru’ terbaik untuk bertanya atau memberi ilmu yang benar-benar dibutuhkan. Ternyata ‘guru kiriman’ itu memang datang dalam berbagai bentuk. Bisa berbentuk manusia dari sembarang etnis artinya tidak selalu Melayu yang bisa mudah berkomunikasi, bisa berbentuk buku atau media cetak seperti buletin atau koran, bisa hasil dari nguping diskusi teman 1 kamar dan tinggal melakukan cross check ke orang yang ahli.

Alhamdulillah saat di Tanah Suci saya benar-benar kosong jadi amat sangat mudah ilmu yang didapat bisa begitu saja menempati ruang dalam memori. Kesadaran bahwa Allah Azza Wa Jalla menjawab permohonan yang saya panjatkan justru ketika saya membuka blog yang sudah lama tidak terisi. Saya ingin berbagi dengan menuliskannya disini. Pengetahuan yang sederhana tetapi yang kadang sangat memberi warna kehidupan masyarakat.

Hari ini saya menuliskan tentang Nabi Muhammad Rasulullaah, yang meski mendapatkan janji pengampunan dosa dari Allah SWT, tetapi yang beliau lakukan adalah selalu membaca Istighfar minimal 100 kali juga Laa ilaaha illallaah sebanyak 100kali dan ditutup dengan Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullaah… Bodohnya…jika selama ini istighfar yang saya lakukan tidak pernah sebanyak itu.

 Saya berjanji untuk ‘meniru’ semua yang dicontohkan Baginda Rasul dan memulainya dengan yang paling mudah. Astaghfirullah hal adzim….

9 Jnuari 2009, Handari

Pendidikan Multikultural

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on November 6, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

Pendidikan multikultural, apa pentingnya? Dalam rangka apa kita melakukan pendidikan multikultural? Untuk menjawab dua pertanyaan tersebut, kita harus melakukan pengamatan atau mengingat kembali peristiwa yang terjadi saat ini dan di masa lalu ketika NKRI dipimpin oleh Presiden Soeharto. Sejak berakhirnya masa pemerintahan Presiden Soeharto, masyarakat memberikan ‘tetenger’ masa dengan ‘era reformasi’. Kita mulai merasakan situasi krisis bidang moneter, ekonomi dan politik sejak akhir 1997 dan akhirnya mengakibatkan terjadinya krisis sosio-kultural dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Justru di era reformasi inilah krisis sosial budaya ini amat terasa sekali. Krisis sosial budaya ini dapat dilihat dalam berbagai modus disorientasi dan dislokasi di banyak kalangan masyarakat kita. Misalnya, disintegrasi sosial politik yang bersumber dari ‘euforia’ kebebasan yang berlebihan, hilangnya kesabaran sosial dalam menjalani kesulitan hidup, sangat mudah melakukan amuk massa dan tindakan kekerasan serta anarki. Penghargaan dan kepatuhan terhadap pemerintahan, hukum, etika, moral dan kesantunan sosial cenderung merosot. Meluasnya penyakit sosial, konflik etnis dan agama terjadi di beberapa propinsi di NKRI kita tercinta. Kekerasan antar kelompok terjadi secara sporadis diberbagai kawasan di tanah air ini menunjukkan betapa rentannya rasa kebersamaan yang dibangun dalam Negara-Bangsa, betapa kentalnya rasa curiga antar kelompok. Betapa rendahnya nilai-nilai multikulturalisme.

Apa yang dimaksud dengan multikulturalisme? Multikulturalisme adalah sebuah paham yang yang menekankan pada kesederajatan dan kesetaraan budaya-budaya lokal tanpa mengabaikan hak-hak dan eksistensi budaya lain yang perlu kita pahami bersama dalam kehidupan bermasyarakat yang multikultural seperti NKRI. Jika paham ini tidak bisa dijalankan dengan baik oleh masyarakat kita. Kemungkinan besar akan selalu terjadi konflik akibat ketidaksaling pengertian dan dalam pemahaman terhadap realitas multikultural tersebut. Secara hakiki kata multikulturalisme terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitas dengan kebudayaannya masing-masing yang unik. Dengan demikian, setiap individu merasa dihargai sekaligus merasa bertanggungjawab untuk bisa hidup bersama komunitasnya. Multikulturalisme adalah sebuah ideologi dan sebuah alat atau wahana untuk meningkatkan derajat manusia dan kemanusiaannya. Konsep kebudayaan harus dipahami dalam perspektif fungsinya dalam kehidupan manusia.

Multikulturalisme merupakan sebuah konsep dimana sebuah komunitas dalam konteks kebangsaan dapat mengakui keberagaman, perbedaan dan kemajemukan budaya, ras, suku, etnis, agama, dan banyak keberagaman yang muncul dalam komunitasnya.

Dengan pengamatan yang intens kejadian berbudaya dan berbangsa di NKRI saat ini, dapat kita rasakan terjadinya ketidak sepahaman tentang multikultural atau kultur yang gagal meresap pada kelompok tertentu yang merupakan kelompok mayoritas secatra etnis maupun agama. Sebagai contoh, budaya Arab dengan mudah berbaur dengan kelompok etnis dan agama tertentu, budaya Barat dengan mudah meresap pada kelompok etnis dan agama tertentu pula. Jika pemahaman berbangsa dan bernegara dengan konsep multikultural tidak segera kita tanamkan dalam masyarakat, terjadinya perpecahan bangsa dikarenakan perbedaan kultur akan terjadi lebih hebat lagi. Pendidikan yang saya maksudkan (sepaham dengan rekan Choirul Mahfud, dosen IAIN Surabaya), adalah pendidikan formal dan masuk dalam kurikulum pendidikan. Semakin dini pendidikan multikultural diberikan, saya yakin hasilnya akan jauh lebih baik.

Pendidikan multikultural yang saya angankan bukan hanya pendidikan formal dimana seorang guru mengajar dengan memegang buku panduan dan berceramah didepan kelas tentang perbedaan ras, kultur dan agama. Saya mengangankan pendidikan multikultural ini dilakukan oleh seseorang yang berjiwa pendidik yang sangat memahami arti keberagaman dan sangat menghormati perbedaan yang ada antar bangsa, suku, etnis, kultur dan agama. Seseorang dengan jiwa pendidiknya yang paham latar belakang tentang bhinneka tunggal ika yang mendasari jiwa NKRI tercinta. Semoga seseorang yang berjiwa pendidik seperti itu masih ada.

Handari

6 November 2008

Foto Diri Sebagai Caleg DPR RI

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on November 2, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto Diri ini adalah media yang saya gunakan untuk memperkenalkan diri dan pikiran2 yang akan saya perjuangkan jika duduk sebagai wakil rakyat di DPR RI. Selain pikiran2 pribadi yang harus saya tawarkan dan perjuangkan, pikiran2 dan harapan2 dari teman, simpatisan, rakyat dan komunitas saya adalah amanah yang harus saya laksanakan dengan seluruh pikiran dan kesungguhan serta ketetapan hati. Tidak ada lain selain ‘menyuarakan’ kebenaran. Semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi dan memberikan kemudahan untuk menjalani.

Seperti yang disarankan oleh Ketua Umum Bapak H.R. Hartono pada saat memberikan arahan kepada seluruh caleg yang berasal dari Provinsi Jawa Timur, bahwa kami para caleg diharapkan mampu membuat suatu cara yang inovatif untuk melakukan pendekatan kepada rakyat, kepada simpatisan dan komunitas kami masing2 dengan biaya yang murah tetapi memiliki nilai yang tinggi. Dengan cara yang sederhana dan simpel agar rakyat mau bersuara dan tidak takut menyuarakan kebenaran juga tidak menyampaiakn aspirasi kosong dan bohong. Inovasi itu Insya Allah bisa diterjemahkan dengan baik oleh kami para caleg di Jawa Timur. Jika mau, kami bisa melakukan kampanye yang heboh. Tetapi untuk apa? Ketika massa terkumpul banyak, saya yakin mereka tidak akan bisa menyuarakan isi hati, keinginan pribadi. Yang terjadi pada akhirnya adalah koor atau ansambel yang sember! Bapak Ketua Umum yang ketika di lapangan selalu mendapatkan pengawalan ketat dari Ibu Hartono, memang benar2 pasangan yang seiring sejalan. Beliau berdua bisa saling mengisi kekurangan. Saran dan arahan Bapak Ketua Umum selalu diterjemahkan oleh Ibu Hartono dengan program aksi yang memungkinkan untuk diterapkan di masyarakat.

Nah, sekarang ini pada saat Daftar Calon Tetap sudah disebarluaskan oleh KPU Indonesia, saya mulai berani memunculkan figur, data personal dan pikiran2, serta harapan saya kepada para pembaca di blog saya juga kepada teman2, para milist yang sudah seringkali berinteraksi di beberapa millist dimana saya selalu hadir dalam setiap diskusi masalah2 publik atau yang bersifat kenegaraan.

Partai yang saya percaya mampu menjadi tempat untuk menampung aspirasi rakyat dan mampu mengelolanya menjadi suatu kebijakan negara adalah Partai Karya Peduli Bangsa dengan nomor urut gambar nomor 2 (dua) dalam lembar pemilu. Sebagai partai dengan jumlah caleg yang sedikit tidak sespektakuler partai yang lain, kami memiliki keunggulan pada sikap antar caleg. Diantara kami para caleg, saat ini tumbuh rasa kebangsaan yang tinggi dan sikap kebangsaan yang luhur yaitu gotong royong. Saya berharap semoga awal yang baik dan tulus, bisa menghasilkan sesuatu yang baik juga. Untuk kita semua, untuk bangsa Indonesia, untuk NKRI tercinta.

Surabaya, 2 November 2008

Salam,

Handari

Mengapa Dilakukan Pemilihan Langsung Presiden dan Wakil Presiden?

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) on Oktober 23, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

Mengapa dilakukan pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden? Pernahkah pertanyaan itu muncul dari anak2 kita yang masih duduk disekolah dasar atau menengah pertama dan atas atau bahkan dari anak2 kita yang sudah kuliah? Sebagian mungkin sudah memperoleh jawaban atas pertanyaan tersebut dari guru yang baik hati dan kreatif produktif, sebagian lagi mungkin sudah memperoleh jawaban dari orang tua dan atau referensi2 yang saat ini sangat mudah diperoleh.

Jujur sebetulnya saya memperoleh jawaban yang bernilai akademis justru dari anak saya yang pertama yang kuliah di Fakultas Hukum. Cara dia memberi kuliah mamanya mampu membuat saya jadi pintar. Beberapa referensi yang dia telusuri melalui internet ditambah dengan materi kuliah dia bisa menambah wawasan saya tentang politik dan hukum dalam pemilihan presiden.

Mengapa pemilihan langsung? Jawaban saya satu2nya yang benar adalah karena pemilihan langsung bersifat dan terasa lebih demokratis. Tetapi pada dasarnya, dan sekali lagi berdasarkan perkuliahan anak saya yang mbarep di fakultas hukum, pemilihan langsung ini memiliki dua alasan penting. Pertama, dengan pelaksanaan pemilihan langsung, rakyat Indonesia memiliki kesempatan untuk menampilkan Presiden dan Wakil Presiden yang dikehendaki oleh rakyat sendiri. Kedua, untuk alasan stabilitas pemerintahan agar tidak diberhentikan ditengah jalan karena hal tersebut dimungkinkan dalam sistem presidensial. Di masa lalu sistem presidensial diberlakukan secara semu dengan pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara tidak langsung oleh rakyat tetapi dilakukan oleh wakil-wakil rakyat di MPR. Padahal miniatur rakyat di MPR memiliki aspirasi yang kadang sangat berbeda dengan aspirasi rakyat yang sebenarnya. MPR yang memiliki hak formal-konstitusional kemungkinan besar akan menyuarakan aspirasi yang terjadi karena mekanisme interaktif antar anggota yang menghasilkan aspirasi yang berbeda dengan aspirasi rakyat yang diwakilinya. Dari sudut demokrasi hal ini dianggap tidak tepat. Seharusnya perbandingan suara antara rakyat dan lembaga yang mewakili rakyat tersebut berjalan paralel. Artinya, kehendak rakyat terbanyak menjadi keputusan wakil-wakilnya di MPR dan DPR.

 Perubahan dalam sistem presidensial murni yang dikehendaki pada era reformasi adalah pemberdayaan dan lebih menguatkan lembaga MPR dan DPR. Tetapi tentu saja perubahan tersebut tidak harus membuat Presiden dan Wakil Presiden menjadi lemah kedudukannya dihadapan lembaga rakyat tersebut. Perubahan yang diinginkan adalah adanya dan terjadinya keseimbangan kekuatan antara Presiden dan Wakil Presiden dengan MPR/DPR sesuai dengan ide tentang mekanisme checks and balances didalam ketatanegaraan. Berdasarkan teori membangun keseimbangan ini, mekanisme keseimbangan dapat terjadi apabila diberlakukan sistem presidensial secara murni dengan pemilihan langsung Presiden/wakil Presiden oleh rakyat.

Pelaksanaan sistem presidensial murni akan menghasilkan Presiden dan Wakil Presiden yang memang murni adalah pilihan rakyat. Dan tentu saja dengan begitu Presiden hasil pemilihan langsung oleh rakyat tersebut tidak dapat dijatuhkan oleh lembaga perwakilan atau permusyawaratan rakyat. Kecuali dalam hal yang sangat luar biasa atau karena terjadinya pelanggaran hukum. Presiden juga tidak dapat dijatuhkan atas dasar penilaian terhadap keputusan-keputusan politiknya dalam menjalankan pemerintahan, kecuali sungguh melanggar ideologi negara serta melakukan kejahatan tertentu dan harus dibuktikan di forum pengadilan. Dengan pelaksanaan sistem presidensial murni ini diharapkan stabilitas pemerintahan akan lebih terjamin.

Yang menjadi catatan pribadi saya adalah bahwa salah satu produk dari era reformasi yang menggembirakan rakyat adalah terjadinya sistem presidensial murni sehingga Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih adalah benar-benar yang dikehendaki oleh rakyat. Dan yang menjadi catatan yang membingungkan saya sampai dengan detik ini adalah kata ‘reformasi’. Benarkah kita melakukan ‘reform’? Apa makna harafiah dari ‘reform’? Dan apa yang sudah kita ‘reform’?

23 Oktober 2008

 

Mumuy, Momok, Ibu Teladan

Posted in Uncategorized on Oktober 15, 2008 by Handari Yektiwi Alchosih

      Sebelum tulisan ini aku pernah menceritakan beberapa kucing lucu dan menyenangkan untuk anak2 ku, keponakan2 dan diriku sendiri. Salah satu yang datang adalah anak kucing yang kalau aku taksir baru berusia sekitar 2 bulan dengan warna bulu hitam gelap polos tapi dihiasi warna putih dibagian dada, leher, perut dan seluruh telapak kaki. Dari kejauhan terutama ditempat yang gelap dia akan terlihat seperti mengenakan rompi dan kaos kaki warna putih. Dari ‘genit’nya aku menerka dia betina jadi aku kasih nama lucu ‘Mumuy’. Tetapi dari perdebatan panjang setelah sempat menjungkir balikkan badan si Mumuy, anak2ku dan semua keponakan menetapkan bahwa dia jantan jadilah nama Mumuy diganti menjadi ‘Momok’ karena dia hitam dan matanya berwarna kuning gelap.

      Mumuy, Momok, kini menghuni salah satu ruangan rumah2an kucing yang terbuat dari kardus dihalaman tengah rumah yang kebetulan memang kosong dan berpasir. Kita bisa melihat tingkah laku mereka lewat kaca di ruang tengah. Mumuy, lucu karena kecil tetapi sintal dan pintar memanjat apa saja yang bisa dia panjat di dalam kamar anak-anak. Suatu ketika Mumuy pernah diare berat sampai lemas selama beberapa hari. Ini adalah pengalaman pertama anak-anak dan aku melihat kucing kecil yang sakit. Sedih, karena tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya yang kita lakukan adalah memberinya makan dengan makanan kaleng seperti saran dokter hewan dekat rumah. Minum mesti diperbanyak supaya tidak lemas dan bisa melawan sakit cacingan seperti diagnosa dokter. Dan, setelah melalui perjuangan yang panjang, Mumuy sembuh meski badannya akhirnya menjadi kurus dan kering, Sebagian bulu-bulu hitam dan putihnya rontok mengerikan karena tulang kaki jadi terlihat jelas.

      Karena satu hal aku sekeluarga harus pindah rumah dan menempati salah satu rumah yang dekat pantai. Ternyata Boggy, Jimbun, Kiki, Mumuy dan Alvina, suka dengan suasana dan udara di rumah dekat pantai ini. Mumuy jadi tumbuh memanjang dengan kaki yang langsing tinggi dan cara berjalan seperti peragawati. Dia anggun dengan warna kulit yang hitam. Wajahnya setelah dewasa terlihat melankolis dan manja khas Mumuy yang suka mengangkat satu kakinya ketika minta dibuatkan makan. Hanya satu yang membuatku kesal, dia suka lari keluar rumah selama berhari-hari dan masuk melalui jendela kamar anakku yang mbarep, dan yang akhirnya tidak pernah menutup jendela kamar karena khawatir Mumuy kedinginan diluar rumah setelah jalan2 dengan pacarnya.

      Bulan-bulan berlalu begitu saja, dan semua kucing2 sekarang beranjak dewasa. Tiba-tiba anakku Mbarep melihat perubahan pada wajah Mumuy. Dia jadi kelihatan ‘tembem’ dan gemuk. Jarang keluar rumah dan kerjanya diam, tiduran, minta makan dan tidur lagi. Melihatnya diam begitu, membuat kita berpikir Mumuy sakit. Untuk memudahkan penanganan kalau memang dia sakit, kita putuskan untuk ‘dikandangkan’ dengan Boggy yang kalem dan baik hati terhadap Mumuy. Berhari-hari tidak ada perubahan tingkah laku artinya kalau sakit menjadi parah atau kembali lincah. Mumuy tetap diam, kalem, sukanya tidur dan makannya banyak. Kita semua bertanya-tanya, kenapa si Mumuy? Akhirnya disuatu pagi tanda tanya besar di kepala kita terjawab, 4 bayi kecil tergeletak di kandang dekat Mumuy, dijilati lembut dan dibantu Boggy membersihkan bercak darah dengan menjilatnya pelan. Boggy yang berwajah garang dan bersuara keras menggeram ternyata terhadap bayi Mumuy, begitu lembut. Subhanallah….

      Pada saat yang bersamaan sebetulnya ada satu ‘tamu’ kucing lagi yang tidak diundang dan karena mata sipitnya dia akhirnya berwajah khas oriental, kita sepakat kasih nama dia Ling Ling, yang juga melahirkan anak2nya yang berjumlah 4 ekor. Ling Ling menjalani proses kelahiran anaknya di kamar mandi tabung yang kering karena anak2ku lebih memilih mandi di bathtube. Ling Ling merasa nyaman dengan ‘apartemen’ tabungnya yang hangat kalau pintu kamar mandi tabung itu aku tutup.

      Aku tidak ingin bercerita tentang Ling Ling saat ini. Aku ingin bercerita tentang Mumuy yang menurutku memberikan contoh keikhlasan seorang ibu. Suatu ketika Ling Ling diserang diare berat dan harus dipisahkan dari anak2nya. Kita sempat bingung harus berbuat apa terhadap anak2nya yang masih harus disusui. Akhirnya kita coba dengan menghadirkan Mumuy didekat mereka. Alhamdulillah, Mumuy ternyata menyayangi anak2 Ling Ling. Dia jilati satu persatu bayi2 Ling Ling dan kemudian dia biarkan bayi2 itu menyusu dengan lahap. Begitulah akhirnya setiap hari yang dilakukan oleh Mumuy. Tetapi ditengah ketenangan yang kita rasakan tiba-tiba muncul ‘masalah’ baru. Ditengah malam buta tiba2 kita dikejutkan dengan suara bayi2 kucing yang menyayat karena ketakutan atau kelaparan dari arah kandang Mumuy dan Boggy. Kita sempat berpikir bahwa anak2 Mumuy keluar kandang atau terjatuh dari kandang. Ternyata bukan, ada bayi2 kucing yang sedikit lebih besar dari bayi2 Ling Ling maupun Mumuy. Bayi kucing darimana? Si Mbarep tidak ingin berpikir rumit, yang dia pikir kasihan bayi kucing ini pasti kelaparan dan kedinginan. Mata Mumuy melihat bayi2 itu dengan tegang dan siap berlari keluar kandang. Dan ketika bayi2 itu didekatkan, tidak menunggu lama bayi2 itu sudah mendapatkan kasih sayang dari Mumuy dan dengan lidahnya dengan memberikan kasihnya. Jadilah dalam kandang itu Mumuy menyusui anak2nya yang 4 ekor ditambah anak2 kucing yang bertamu malam2 yang 4 ekor juga.

      Untunglah Ling Ling segera sembuh jadi tugas menyusui bisa diserahkan kembali ke Ling Ling tetapi Mumuy tetap saja merasa harus bertanggungjawab terhadap anak2 susuannya. Sesekali dia datang ke ‘apartemen’ Ling Ling untuk ’say hello’ yang dilanjutkan dengan acara menyusui anak2 Ling Ling.

      Mumuy yang hitam dengan mata lembut dan wajah anggun. Gaya manjanya ketika minta diberi makanan ekstra sungguh menyentuh hati dan benar2 mengikat hati anak2ku juga aku. Terhadap Mumuy seisi rumah menjatuhkan respek dan nilai hormat yang tinggi. Santunnya ketika diberi makan, ketika minta makanan ekstra, ketika minta dimanja atau dibersihkan bulunya. Tidak nampak sama sekali Mumuy hanya kucing lokal. Satu hal yang mengherankan adalah perilaku dia sebagai betina, dia sangat setia terhadap pasangannya kucing yang berada diluar rumah. Mereka selalu janji bertemu pada jam tertentu dan selalu pulang tepat waktu. Kita mengamati perilaku pacaran mereka setiap sore dan ketika pulang. Pacar Mumuy selalu menunggu diseberang pagar dengan sikap santun tanpa berteriak memanggil seperti yang dilakukan kucing liar yang lain. Ketika melihat Mumuy keluar dari halaman dia akan segera beranjak dari duduknya kemudian berjalan berjajar menuju rumah kosong dekat rumah. Dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Mumuy ku tiba2 akan muncul di jendela atas dengan diantar pacarnya yang dengan gagah menunggu sampai Mumuy turun dari jendela.

Suatu ketika Mumuy tidak pulang padahal waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Anakku si Mbarep mulai gelisah tetapi tidak berani mencari Mumuy diluar rumah seperti yang dia lakukan pada malam2 sebelumnya. Dia menunggu dengan gelisah dan makin gelisah ketika pacar Mumuy berteriak keras di jendela kamarnya tempat Mumuy selalu diantar pulang. Dia tetap duduk santun diteras jendela sampai waktu menjelang pagi. Ketika subuh pacar Mumuy masih tetap duduk santun dengan mata memandang si Mbarep dengan pandangan yang berbeda dengan waktu2 sebelumnya. ‘Dimana Mumuy?’ tanya si Mbarep. Aneh, dia menjawa, ‘Meiiyow….’. Suaranya lirih pedih….dan aku merasa bisa merasa, bisa merasakan kepedihan dari suaranya. Aku berdoa, mudah2an ini hanya aduankesedihan karena Mumuy diambil kucing lain. Mudah2an begitu. Tetapi ternyata tidak, ketika pagi mulai terang, Satpam yang biasa bersepeda berkeliling kawasan perumahan datang dengan sebuah kardus besar dan bersih mengabarkan bahwa Mumuy ku telah terluka parah dan tidak tertolong lagi karena tertabrak mobil yang dikendarai tetanggaku yang pulang malam dalam keadaan mabuk. Pedihnya hatiku dan hati anak2ku, keponakan2ku ketika tahu Momok, Mumuy, kucing hitamku yang berkaos kaki, yang lembut, yang manja dan anggun, yang berhati ibu dan ibu teladan telah pergi. Si Mbarep yang pmarah tidak bisa mengeluarkan amarah, dia hanya mampu mengeluarkan suara tersendat,’aku sudah merasa Mumuy mau pergi….siapa orang yang tidak punya hati yang tega seperti ini…..Si Mbarep susah melupakan peristiwa ini, dan jujur, aku sampai detik inipun ketika menulis kisah Mumuy kucing yang aku beri respek tinggi masih merasakan denyut yang sakit dan pedih mengingat kepergian Mumuy. Airmatakupun masih menetes deras. Mumuy sudah pergi tetapi dia masih meninggalkan kenangan dan 1 anak yang seanggun Mumuy, Shasha namanya. Dia mendapatkan perhatian dan kasih yang lebih dari si Mbarep dan si Adik, bungsuku. Selamat jalan Mumuy, kamu ibu teladan dan memberi pembelajaran pada seisi rumah.

Handari Y Alchosih